Kesenian Yogyakarta: Joget Kidhung Paweling #2

0 30

Joget Kidhung Paweling #2

Joget Kidhung Paweling #2 merupakan sebuah tarian yang berangkat dari kegelisahan dan kecemasan Dr. Kuswarsantyo, M. Hum terhadap beberapa kelompok orang yang anti terhadap tradisi terutama Kraton Yogyakarta yang mana mereka beranggapan dengan tarian ini menyebabkan sirik. Dari ini semua maka dibuktikannya bahwa tradisi klasik tari Yogyakarta Mataraman yang adi luhung ini disandingkan dengan membuat konsep tari tradisional Mataraman yang biasanya disebut Joged Mataraman dengan lirik sholawat Nabi Muhammad SAW. PJoget Kidhung Paweling #2 ini sebagai tarian ke 4 pada Sewindu Bale Seni Condroradono di Ndalem Mangkubumen.

Dari sinilah di buat eksperimen antara Dr. Kuswarsantyo, M. Hum dengan Wibi Mahardika yang membuat kareografer Joged Sholawat Mataram yang merupakan awalan tari ini diciptakan. Disini Dr. Kuswarsantyo, M. Hum menari klasik gaya Yogyakarta dengan iringan gadruh wuru, tetapi belum dirubah dan masih aslinya wuru (seperti orang mengaji di Masjid) dimana yang dieksplore hanya musiknya saja. Dengan eksperiment ini hasilnya sangat di luar dugaan dimana ketika tariannya lembut, tapi iringan rebananya keras sehingga terjadi adegan yang kontras yang mengandung estetika paradok.

Ternyata hal ini setelah diselidiki semakin dalam, hal ini juga dilakukan oleh seniman-seniman dari Sulawesi Selatan (Makasar) dengan tarian Pakarena dimana gendangnya luar biasa tapi yang menari malah cenderung lembut. Dari ini semua menjadi inspirasi Joged Sholawat Mataram yang diiringi oleh reban Dari semua eksperimen ini pertama kali dinamakan Joget Sholawat Mataram yang selanjutnya di buatlah Joget Kidhung Paweling #2 yang mengandung makna bahwa Paweling itu artinya pesan atau message yang disampaikan dalam tarian ini supaya orang hidup itu harus instropeksi diri untuk menghadapi hari esok.

Karena kita bicara Sholawat Nabi Muhammad SAW yang tertera dalam lirik lagunya yang mengisyaratkan bahwa “eling-eling siro manungso kudu sregep siro ngaji mumpung during ditekani malaikat juru pati” artinya sebelum kita dijemput oleh malaikat pencabut nyawa kita harus intropeksi diri apa yang harus kita lakukan harus sesuai dengan ajaran Nabi. Sehingga waktu Joget Kidhung Paweling #2 waktu adegan tari sembahan, para penari tidak langsung menghadap penonton tapi menghadap kiblat. Ini merupakan representative orang sholat yang disimbolkan dalam tarian.

Setelah adegan manembahan wiji pada Yang Maha Kuasa ditengahnya ada konflik, dimana disini ada adegan perang yang merupakan symbol batin manusia, dibalik kekhusukan orang berdoa ternyata di dalam batin ada pergolakan entah masalah keluarga, masalah dengan teman atau tetangga yang disetiap hati manusia semua memilikinya.Dan pada adegan terahkir perang itu akan berakhir dengan happy ending dimana disitu diiringi lagu ilir-ilir tandure wong sumilir yang mengingatkan kita sudah waktunya kita siap-siap sholat karena sudah mendekati Magrib. Ayo podo sembayang ning Masjid artinya wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa supaya pertentangan konflik batin ini tidak berlanjut lebih lama.

Penari pada Joget Kidhung Paweling #2 berjumlah 5 orang yang didalam dunia pewayangan artinya Pandawa Lima yang mempresentasikan sifat kehidupan atau sifat manusia dimana Nakulo Sadewo mempunyai arti benar salah atau siang malam dalam kehidupan, Janoko sebagai penyeimbang batin yang mempunyai arti manusia ditempatkan dimana saja harus segera dapat menyesuaikan dirinya terhadap masyarakat, Bima menyimbolkan kekuatan yang menyatakan benar atau salah atau apa adanya dan yang terahkir Puntodewo yang menyimbolkan suci, semuanya ini didalam ajaran Islam semua itu diajarkan. Tarian ini dapat dijadikan tuntunan disamping sebagai tontonan, dimana Pandowo Limo ini menjadi ikon pada Joget Kidhung Paweling #2, selain memperlihatkan sifat-sifatnya yang baik didunia ini juga layak di implementasikan  dalam kehidupan nyata atau bermasyarakat.

Source https://myimage.id https://myimage.id/joget-kidhung-paweling-2/
Comments
Loading...