Kesenian Yogyakarta, Fragmen Menak Geger Mukadam

0 164

Fragmen Menak Geger Mukadam adalah sebuah tarian fragmen menak gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang Widaninggar bersama Ibudanya Widaningrum dari negeri Tartaripura jauh-jauh datang mencari Tyang Agung Jayengrono dari Puserbumi yang telah membunuh Adaninggar kakak dari Widaninggar. Untuk membalaskan dendamnya itu, dia meminta bantuan Raja Mukaji dari Negara Mukadam, sehingga terjadi peperangan sengit di kedua belah pihak. Namun malang tidak dapat ditolak, Widaninggar bersama Ibudanya seta para prajuritnya tewas di tangan Kuroisin Raja Negeri Ngajrak yang masih putri dari Tyang Agung Jayengrono. Dan akhirnya Negeri Mukadam takluk kepada Tyang Agung Jayengrono.

Tarian ini ditarikan di Pendopo Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No 364 Panggungharjo, Sewon Bantul pada Pagelaran Wayang Menak 2018 yang pertama kali pada tanggal 6 Mei 2018 oleh Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram. Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram adalah sebuah sanggar tari klasik gaya Yogyakarta dan tari modern yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1984 yang didirikan oleh Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn. Sanggar tari ini mempunya base camp di jalan Gedongkiwo MJ I/886 Yogyakarta 55142- Indonesia. Selain menerima anggotanya untuk generasi anak-anak, juga untuk ibu-ibu yang umurnya diatas 50 tahun, yang di sanggar ini dibuatkan khusus tarian  mempelajari sesuai dengan umur anggotanya. Selain sebagai bagian dari ekspresi bagi orang tua , tarian ini dapat dijadikan healing atau terapi kesehatan bagi tubuh yang sudah tidak muda lagi.

Pagelaran Wayang Menak 2018 diadakan oleh Dinas kebudayaan Daerah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan selama 3 hari mulai tanggal 6 sampai 8 Mei 2018. Pagelaran ini diikuti oleh 6 Sanggar Tari klasik Gaya Yogyakarta yang sudah melegenda di Yogyakarta, antara lain Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, Yayasan Siswa Among Beksa, Perkumpulan Tari Kridha Beksa Wirama, Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa, Paguyuban Kesenian Suryo Kencono dan Irama Tjitra.

Beksan menak merupakan salah satu tari menak klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini dan beliau terjun secara langsung dalam penciptaan tarian menak ini. Gerak tariannya mengambil dari wayang golek kayu dan dari awal tarian ini diciptakan, banyak sekali penyempurnaan-penyempurnaan sehingga mencapai bentuknya yang disaksikan sekarang ini. Sayang sekali beliau wafat sebelum tarian menak ini pada puncaknya.

Beksan Fragmen Menak Geger Mukadam ini ditarikan selama 1,5 jam full non stop dengan jumlah penari 120 orang. Istimewanya adalam beksan ini walaupun ini merupakan tari klasik gaya Yogyakarta tapi didalamnya ada unsur humor terutama di adegan peperangan yang dilakukan umarmoyo, sehingga kesegaran penonton dibuat naik kembali setelah turun beberapa saat waktu tarian ini penuh dengan ragam gerak klasiknya. Dalam tarin ini juga memasukan unsur-unsur gerak tarian anak yang dilakukan anak-anak. Tarian klasik bagi anak-anak adalah sesuatu yang sangat menjemukan, tapi Sanggar Retno Mataram membuat sebuah kemajuan, dimana anak-anak ini diajak menari klasik tapi dalam dunia mereka.

Gerak pada Fragmen Menak Geger Mukadam ini sangat spesifik, disini mencoba menirukan gerak wayang golek, dimana geraknya terkesan patah-patah, agak kaku serta kebanyakan bentuk tangannya ngruji dan tegas. Dan ada yang beda pada gerakan yang dilakukan Widaninggar bersama Ibudanya Widaningrum (putri Cina), dimana lebih memperlihatkan gerakan dari negeri Cina (Kungfu). Gerak tari ini juga memasukan unsur gerak Pencak Silat Sumatra Barat. Ide ini didapat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ketika menyaksikan suguhan Pecak Silat Gaya Sumatra Barat (Minang) ketika berkunjung di daerah Bukit Tinggi.

Busana yang dikenakan pada Fragmen Menak Geger Mukadam ini juga mengalami perkembangan jaman, artinya tidak seperti pada busana wayang wong pada umumnya. Karena tarian ini mengambil dari Serat Menak yang berhubungan dengan napas Agama Islam yang menjadi latar belakangnya, maka seluruh penarinya menggunakan busana lengan. Sedangkan busana pelengkap lainnya menggunakan celana cindhe, kain panjang rampakan, kampuhan, cincingan atau seredan, sondher (selendang) cindhe dan asesoris jamang (hiasan kepala), sumping, klat bahu (gelang tangan) dan kalung susun tiga. Pada Jamang ada yang khas pada tarian ini dimana terdapat puthutan/dulban yang menyerupai sorban, ada pula untaian mote-mote warna emas yang dipakai oleh penari Cina. Walaupun sudah ada pakemnya tapi oleh para seniman Yogyakarta di buat lebih kreatif mungkin tanpa meninggalkan pakem-pakem yang sudah ada.

Riasannya mengacu pada karakter dari wayang wong sendiri atau masih sama, seperti Tyang Agung Jayengrana mengacu pada karakter tokoh putra halus yang luruh (Arjuna), Raja Mukaji dari Negara Mukadam dengan karakter kinantang gagahnya seorang Raja. Sedangkan penari putri-putrinya dengan karakter luruh dan brayak. Dan ada yang spesifik dari Widaninggar bersama Ibudanya Widaningrum (putri Cina) menggunakan riasan khusus yang mempertegas sebagai seorang putri dari Negara Cina. Property yang dikenakan dalam Fragmen Menak Geger Mukadam adalah keris, tombak, pedang, panah serta burung garuda.

Harapan diadakan Pagelaran Menak 2018 ini adalah kita lebih mencintai dunia seni dan budaya kita yang sangat kaya, karena dari akar seni dan budaya inilah kita mempunyai pondasi yang sangat kuat untuk kemajuan Bangsa Indonesia. Ini merupakan harta karun non bedawi bagi Bangsa Indonesia. Kalau tarian-tarian seperti ini di tarikan pada Bangsal/Pendopo Srimanganti yang rutin diadakan pada hari Minggu jam 11.00 wib, pasti pengunjung Kraton Yogyakarta akan bertambah ramai, karena fragmen-fragmen seperti ini jarang sekali di tampilkan dikalayak umum. Semoga dengan segala aturan yang ada didalam Kraton Yogyakarta, lebih bisa membuka diri untuk menampilkan fragmen-fagmen tarian yang jarang dilihat oleh masyarakat atau wisatawan asing maupun lokal di Bangsal/Pendopo Srimanganti kedepannya.

Source https://myimage.id https://myimage.id/fragmen-menak-geger-mukadam/
Comments
Loading...