Kesenian Yogyakarta: Beksan Srikandi Bisma

0 24

Beksan Srikandi Bisma

Beksan Srikandi Bisma adalah sebuah tarian yang idenya diambil dari pethilan cerita Mahabarata disaat perang Bharatayuda antara Resi Bisma (Senopati Kurawa) melawan Dewi Srikandi (Senopati Pandawa), dimana dalam peperangan tersebut Resi Bisma gugur oleh panah Dewi Srikandi.  Tarian ini ditarikan oleh UKM Swagayugama (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Jawa Gaya Yogyakarta Universitas Gadjah Mada) pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti yang merupakan sebuah acara rutin, digelar pada tanggal 25 Pebruari  yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

UKM Swagayugama (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Jawa Gaya Yogyakarta Universitas Gadjah Mada) merupakan sebuah organisasi kemahasiswaan intra universitas yang peduli terhadap pengembangan dan pelestarian kesenian tradisional Jawa, khususnya tari dan karawitan gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 6 Maret 1968. Sedangkan tujuannya adalah mewadahi minat berkesenian para mahasiswa UGM yang disalurkan lewat seni tari Gaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai luhur. Dalam perang Baratayuda ini, Dewi Srikandi menjadi Panglima Senopati perang dari pihak Pandawa yang menggantikan Seta, kesatria Wirata yang gugur ketika menghadapi Bisma. Namun pada akhirnya Bisma bisa di bunuh oleh Dewi Srikandi dengan panah Hrusangkali, hal ini disebabkan karena kutukan dari Dewi Amba yang dendam terhadap Bisma karena cintanya ditolak oleh Resi Bisma.

Pada saat sebelum Dewi Amba meninggal dia bersumpah akan berinkarnasi untuk membunuh Bisma melalui Dewi Srikandi. Gerak pada Beksan Srikandi Bisma ini sangat di dominasi gerak yang menggambarkan tentang persiapan perang keduanya, tapi selain itu terlihat gerak muryani busono juga, seperti pada saat atrap jamang, atrap nipis yang dilanjutkan gerakan peperangan.

Gerakan Bisma dalam tarian ini walaupun dalam keadaan perang lebih terlihat gerak halus beda dengan gerak klono-klono gagah yang biasanya. Busana yang dikenakan Dewi Srikandi, memakai irah-irahan tekes warna hitam, godekan, rambut panjang yang mana bila penarinya berambut pendek pasti akan dikenakan rambut pasangan yang dinamakan oren, sumping (kudu putri), kalung susun tiga, rompi, klat bahu wayang, jariknya menggunakan sistem cukat urang (ksatria) dan motipnya parang, celana dan sampur cindhe.

Sedangkan yang dipakai oleh Resi Bisma irah-irahannya berbentuk keong, sumping, telanjang dada sepih, celana cindhe, boro, lontong, kamus timang, sampur (satu). Kedua penari menggunakan property keris tapi Dewi Srikandi juga menggunakan panah. Riasan keduanya menggunakan riasan cantik dan cakep. Irama gendhing pada tari ini menggunakan gendhing ladrang pamularsih, ketawang puspowarno, tapi disaat adegan perang menggunakan gendhing playon dan terakhir menggunakan playon tlutur dimana kesemuanya ini menggunakan Gamelan Pelog Pathet Barang.

Sebuah tarian gaya Yogyakarta yang sangat elok yang ditampilkan para mahasiswa UGM melalui UKM Swagayugama, yang mengharapkan agar masyarakat lebih mengerti dan mencintai budaya Indonesia, dimana di Pendopo Srimanganti ini dapat dijadikan ajang untuk menampilkan ekspresi para mahasiswa tapi juga sebagai ajang latihan agar kedepannya bisa tampil maksimal di hadapan penonton yang dalam hal ini bukan saja wisatawan lokal tapi lebih ke wisatawan asing agar lebih sering datang ke Indonesia khususnya Yogyakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-srikandi-bisma/
Comments
Loading...