Kesenian Tradisional Gong Renteng Cirebon

0 296

Gong renteng Cirebon (bahasa Indonesia : gamelan Renteng Cirebon) merupakan satu set alat musik yang terdiri atas bonang dan lainnya yang dipergunakan untuk kepentingan dakwah Islam di Cirebon, berapa nama gong renteng yang berasal dari wilayah Cirebon diantaranya adalah Ki Muntili, Mega Mendung, si Kangkung, si Banjir, Pangkur tamu, Bale bandung, si Dingklik, Buntel mayit dan Ki Gamel serta Ki buyut Bulak (yang disimpan di Indramayu).

Alat musik serupa juga terdapat di kabupaten Sumedang dengan jumlah yang terbatas, salah satu tempat yang masih menyimpan gong renteng di kabupaten Sumedang tepatnya berada di desa Cisarua, selain itu di kabupaten Kuningan juga dapat ditemui gong renteng dengan nama pengunggah manah.

Gong renteng memiliki keunikan tersendiri karena Goong renteng ini manakala sudah dibunyikan mempunyai arti tesendiri. Dan hanya dibunyikan pada saat-saat menyambut “tamu agung” atau tamu kehormatan yang memasuki lapangan upacara.

Sejarah Gong renteng cirebon

Gong renteng Cirebon berkaitan erat dengan kisah Ki Gede Gamel yaitu Ki Windu Aji yang diminta kesediaannya oleh Mataram untuk merawat kuda-kuda milik Mataram, setelah selesai menjalankan tugasnya, Mataram memberikan upah dan seperangkat gamelan yang oleh Ki Windu Aji dibawa ke Cirebon, di Cirebon gong renteng juga dikenal dengan nama gong Dawa (bahasa Indonesia : gamelan Dakwah) karena fungsinya untuk syiar agama Islam. Masyarakat adat Cirebon mempercayai kisah dibawanya gong Renteng (bahasa Indonesia : gamelan Renteng) ke Cirebon dari wilayah Mataram terjadi pada masa sunan Gunung Jati masih memerintah sebagai Sultan di kesultanan Cirebon.

Pada permulaannya, seperangkat gong Renteng (bahasa Indonesia : gamelan Renteng) yang dipersembahkan oleh Ki Windu Aji kepada Sunan Gunung Jati dipergunakan sebagai media dakwah pada saat penyebaran agama Islam. Gong renteng selain digunakan sebagai media dakwah Islam, pada perkembangannya menurut Ki Kartani digunakan pula sebagai media kesenian untuk menyambut tamu-tamu kehormatan yang datang ke kesultanan Cirebon.

Dalam perkembangannya sekarang ini, Goong renteng sewaktu-waktu tampil memeriahkan acara karnaval atau pawai alegoris pada peringatan hari besar nasional, acara hajatan, pesta dan keramaian lainnya sekaligus mengiringi kepergian tamu yang meninggalkan tempat acara. Khususnya dalam acara satonan, Goong renteng sangat diperlukan.

Instrumen Goong Renteng biasanya menyajikan lagu-lagu tradisi, seperti lagu Kebojiro/Papalayon sebagai penghormatan kepada tamu yang akan datang dan pada saat pulang, di susl kemudian lagu pangkur Bale Bandung Besar, Bale Bandung Kecil, Sisisr Ganda, Malang Totog, Sampyong, Tunggul Kawung, Randa Nunut, Rindik Subang, Panglima dan lagu ciptaan sekarang yang bisa disesuaikan.

Gong Renteng dan kesenian Islami

Pada perkembangan selanjutnya, gong Renteng Cirebon tidak hanya dipentaskan sebagai kesenian yang mandiri baik untuk tujuan dakwah Islam maupun sebagai kesenian penyambutan tamu kehormatan di kesultanan Cirebon, namun telah menyatu menjadi pelengkap kesenian-kesenian yang bernafaskan Islam lainnya di masyarakat, seperti menjadi pengiring pada pagelaran Jaran Lumping Cirebon (bahasa Indonesia : kuda Lumping Cirebon), di Cirebon pagelaran Jaran Lumping tidak mementaskan atraksi seperti makan beling, makan rumput serta atraksi-atraksi lainnya yang biasa dibawakan pada pagelaran kuda Lumping dari wilayah diluar Cirebon semisal Jawa, pada pagelaran Jaran Lumping Cirebon yang dipentaskan hanyalah tarian saja, karena tujuan dari pagelaran Jaran Lumping Cirebon ini adalah syiar Islam, maka Jaran Lumping Cirebon dikenal juga dengan nama Jaran Berahi dari kosakata bahasa Cirebon berahi (bahasa Indonesia : asmara cinta) maksudnya adalah pagelaran Jaran Lumping ini bertujuan untuk menuntun masyarakat agar mencintai Allah swt dan rasulnya.

Dalam upaya melestarikan kesenian Goong Renteng dan berdasarkan adat turun temurun, sebelum bulan Mulud, Goong Renteng itu harus “mandi” artinya dicuci agar tetap bersih, lalu diadakan selamatan sambil menabuhnya. Tradisi lainnya yang biasa dipakai yaitu setiap tanggal 1 Syawal dan 10 Rayagung harus dibunyikan. Sedangkan larangan “karuhun” yang harus dijaga oleh keturunannya yakni tidak boleh menjual Gamelan Goong Renteng itu kepada siapapun. Hasilnya hingga saat ini Gamelan Goong Renteng masih tetap utuh meskipun keadaannya sudah kurang memadai.

Menurut keterangan, Gamelan Kuno yang kini di kenal dengan ” Goong Renteng” teryata usianya sudah 2 abad atau 200 tahun. Pemilik gamelan ini adalah Abah Raksajaya penduduk Kelurahan Sukamulya Kecamatan Cigugur.Gamelan ini dibelinya pada tahun 1792 dari Buyut Anjun Pangeran Pagongan di Cirebon. Gamelannya terbuat dari bahan perunggu terdiri dari 34 buah goong kecil, 2 buah goong besar dilengkapi gambang dan dua buah kecrek perunggu.

Source KESENIAN GOONG RENTENG Gong Renteng Cirebon
Comments
Loading...