Kesenian Terebang Gembrung Serang

0 226

Kesenian Terebang Gembrung Serang

Terebang Gembrung adalah jenis kesenian musik tradisional Banten, yaitu berupa dzikir dan solawat yang diiringi dengan waditera (alat musik) terebang (rebana) dan bedug (kendang). Dinamakan “Terebang Gembrung” karena diambil dari suara terebang yang dipukul berbunyi “brung-brung-brung”. Tidak ada menggunakan tarian.

Kesenian ini dipentaskan pada acara Maulid Nabi, Muharram, serta pada resepsi pernikahan maupun khitanan, dan acara-acara lainnya. Dzikir dan solawat yang digunakan sebagai lagu merujuk dari kitab Barzanji (‘Iqd al-Jawahir).

Kesenian ini dapat dikatakan hampir punah, karena hanya ada di tiga tempat, yaitu pertama di lingkungan Cikentang, Desa Sayar, Kecamatan Taktakan Kota Serang (15 menit dari alun-alun Kota Serang). Kedua di Desa Cimoyan Kec. Taktakan, dan ketiga di Desa Pancur Kec. Taktakan.

Grup kesenian Terebang Gembrung yang dideskripsikan disini adalah yang beralamat di Lingkungan Cikentang, pimpinan Tusman. Adapun grup Terebang Gembrung di Cimoyan maupun di Pancur merupakan binaan dari grup di Cikentang. Tokoh seniman Terebang Gembrung di Cikentang adalah Bapak Jahidi (60) bin Sangad bin Kamad. Adapun tempat latihan dilakukan di rumah bapak Aminudin bin Tarina.

Diduga kesenian ini muncul sejak era Kesultanan Banten. Menurut Tusman dari bapaknya, yaitu Jahidi, dari kakeknya Sangad, dari bapaknya Sangad yaitu Kamad (wafat 1977 di usia 102 tahun), di masa hidup Bapak Kamad pernah bercerita bahwa kesenian Terebang Gembrung sudah ada. Adapun tawasul dan wasilah pada setiap mejelang pentas Terebang Gebrung menyebutkan Syekh Abdul Qadir Jaelani, Nyi Mas Mayangsari, dan Bapak Kamad.

Grup Terebang Gembrung sebelumnya dimotori oleh alm. Kamad dan alm Hasan. Kemudian diturunkan kepada Tarina dan Sangad. Sangad adalah Bapak Jahidi. Pewaris grup Terebang Gembrung Cikentang yang sekarang. Kemudian sempat vakum setelah beberapa personil wafat, kemudian Tusman melihat alat terebang di rumahnya tergeletak, lalu ia berkomunikasi dengan Bapaknya, Jahidi, maka dimulailah latihan-latihan dan pentas-pentas pada tahun 2015 awal.

Personil dan Waditera

Personil grup ini beranggotakan 21 orang yang terdiri dari:

–          1 orang pemukul bedug,

–          18 orang pemukul  terebang gembrung

–          2 orng pemukul kontreng (penderes dan penimbal)

Terdapat tiga macam waditera, yaitu:

  1. Bedug, yang berbentuk seperti kendang/gendang terbuat dari kayu dengan menggunakan membran kulit rusa.
  2. Terebang Gembrung, terbuat dari kayu dengan membran kuit kambing, bentuk dan ukurannya berbeda dengan terebang rudat (hadrah) maupun qasidah. Tanpa simbal.
  3. Terebang kontreng, yaitu terebang jenis hadrah, terbuat dari kayu dan membran kulit kambing, tanpa simbal.

Jenis Pukulan dan Pentas

Ada lebih dari sepuluh jenis pukulan dan lagu, namun baru bisa dimainkan beberapa saja, yaitu pukulan yang dinamai sebagai berikut:

  1. Solawat Nabi
  2. Asala
  3. Allahu’an
  4. Aripa
  5. Alipi Salu
  6. Salilaya
  7. Kana Kal
  8. Usil-usil Kumbang

Pentas Terebang Gembrung pada acara resepsi pernikahan lazimnya dimulai bakda Isya hingga tengah malam (pukul 00:00 WIB). Apabila jenis lagu dinyanyikan seluruhnya bisa mencapai waktu subuh. Para pemain waditera sekaligus vokal dzikir, dipimpin oleh pemuku bedug. Tidak ada vokalist khusus. Ritual hadorot dilakukan sebelum pentas, jika tidak dilakukan hadorot maka suara alat musik tidak nyaring. Frekuensi pentas resepsi tidak menentu, kadang sebulan ada 2 (dua) kali, kadang dalam dua bulan tidak ada sama sekali, biasanya di bulan Muharram dan Safar.

Latihan rutin biasanya diadakan setiap malam minggu dari pukul 21:00 s/d 23:00 WIB.  Pentas di event lain pada ultah Kota Serang. Pernah pula pentas pada pada acara pertemuan pendekar yang dipimpin H. Chasan Sochib di sekitar Pasar Rau Kota Serang. Pentas paling jauh pernah sampai ke Pamarayan pada resepsi pernikahan.

Source http://komunitasjazzbanten.blogspot.co.id http://komunitasjazzbanten.blogspot.co.id/2017/11/terebang-gembrung.html
Comments
Loading...