Kesenian Tari Warag Dugder, Pagelaran Tari Gaya Semarang

0 138

Tari Warag Dugder yang merupakan sebuah tari garapan tradisi Semarangan yang didalamnya menceritakan tentang akulturasi budaya Kota Semarang dimana disini ada budaya Cina, Jawa dan Arab.

Tarian ini diciptakan pada tahun 1998 oleh Yoyok B Priyambodo yang tergabung dalam Sanggar Greget. Pertama kali di tampilkan pada Festival Wali Songo di Surabaya dan menjadi yang terbaik dalam festival ini. Tapi kali ini dipentaskan di Pagelaran Tari Gaya Semarang di Taman Indonesia Kaya Semarang.

Yoyok B. Priyambodo lahir pada tanggal 25 April 1966 di Semarang, Belajar menari dari orang tuanya (Bpk/Ibu Soedibyo) di Sanggar Tari Kusuma Budaya pada tahun 1972. Kemudian pada tahun 1982 bersama keluarganya mendirikan Sanggar Greget Wilang, tapi kemudian berganti nama menjadi sanggar Greget pada tahun 1992 sampai sekarang.

Pagelaran Tari Gaya Semarang ini merupakan yang pertama kali di gelar, diadakan pada tanggal 24 November 2018 oleh Manajemen Taman Indonesia Kaya yang bekerja sama dengan Sanggar Greget Semarang pimpinan Yoyok B. Priyambodo pada pukul 19.30 wib sampai selesai di Taman Indonesia Kaya Semarang.

Taman Indonesia Kaya merupakan panggung seni terbuka di Kota Semarang yang diresmikan pada tanggal 10 Oktober 2018, yang dijadikan sebagai tempat menumpahkan ekspresi jiwa seni para seniman-seniman Kota Semarang.

Gaya tari Semarangan memang mempunyai beberapa spesifikasi tertentu yang mungkin tidak dipunyai oleh daerah lain mulai dari ragam geraknya, sekaran, egolan bokongnya endok remek (angka 8), busananya menggunakan kain Semarangan (motip batik bunga, pohon asem, lawang sewu dan tugu muda).

Terinspirasinya terciptanya tarian ini, manakala beliau melihat acara Dugderan yang menampilkan Warag Ngendog yang dulu ditampilkan di tengah-tengah alon-alon Kota Semarang, di depan Masjid Kauman Semarang yang merupakan CBD nya semua kegiatan dari komunitas Cina, Jawa dan Arab yang ada di Semarang dulunya.

Realitas ini menunjukan bahwa korelasi antara Warak Ngendog dan Dugderan merupakan kearifan produk lokal dalam menghadapi bulan suci Ramadhan di Kota Semarang.

Warak berasal dari bahasa Arab “waro’a” yang berarti manusia harus menjaga diri dari hawa nafsu dan perbuatan yang tidak baik, salah satunya perbuatan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari melalui amalan puasa.

Gerakan dalam Tari Warag Dugder ini semua dasarnya mengambil embrio kehidupan masyarakat Kota Semarang sehari-hari dan yang paling khas Semarangan adalah gerak unjal jolo sebuah gerakan-gerakan yang lapang ditambah gerakan-gerakan tangan diatas serta sekaran bapang daplang dan seblak sampur (guwak jolo), semua ini melambangkan topografi Kota Semarang yang mempunyai pantai, kota dan pegunungan.

Busana yang dikenakan dibedakan 2, dimana pada penari putrinya menggunakan busana pranakan Cina dengan sarung Semarangan, tusuk konde Cina, sanggulan jepolan Cina, sedangkan penari laki-lakinya menggunakan busana lengan dan celana panjang dengan iket kepala plus jarik pendek.

Iringan yang mengiringi tarian ini merupakan garapan yang setiap tahunnya selalu mengalami penambahan atau garapan baru  sehingga semakin sempurna dalam hal iringannya. Beberapa tokoh yang menambahkan garapan iringannya antara lain Sadyo (lulusan ISI Yogyakarta), Saroso (Dinas Pariwisata Kota Semarang) dan masih banyak lagi.

Semarang merupakan salah satu sumber seni dan budaya keragaman yang dipunyai Indonesia yang tercipta dari  komunitas Cina, Jawa dan Arab. Dengan adanya tarian ini diharapkan masyarakat Semarang lebih merasa memiliki dan handar beni terhadap seni budaya yang hidup di masyarakatnya, ujar Yoyok B. Priyambodo.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-warag-dugder/
Comments
Loading...