Kesenian Tari Urib Urub

0 193

Salam Budaya, sugeng enjing poro sederek sedulur. Budaya Jawa merupakan salah satu ragam budaya yang di punyai oleh Indonesia yang makna dan filosofinya bisa mengikuti perkembangan jaman, masih sangat relevan digunakan dalam kehidupan dijaman sekarang ini. Salah satunya tergambar dalam Tari Urib Urub yang merupakan sebuah tarian kontemporer yang didalamnya menceritakan tentang hakekat hidup manusia yang terus menyala dan hendaknya selalu memberikan faedah atau manfaat bagi sesama insan manusia di dunia ini.

Karya tari ini disimbolisasikan dengan pohon pisang, karena pohon ini selain bermanfaat, hidupnya berdampingan dengan manusia yang tidak akan mati sebelum manfaat darinya belum dimanfaatkan oleh manusia, walaupun dipangkas, dia akan tumbuh dan berbuah dan kemudian baru mati. Tari Urib Urub merupakan ciptaan dari Tri Anggoro S.SN yang merupakan karya terbarunya, dimana tarian ini khusus diciptakan untuk ditampilkan pada Gelar Tari Kontemporer yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta sebagai UPTD Dinas Kebudayaan DIY, pada tanggal 18 Oktober 2018 mulai pukul 19.30 wib di Concert Hall TBY. Tri Anggoro merupakan alumnus ISI Yogyakarta yang lahir pada tanggal 22 Mei 1990 di Donotirto Kretek Bantul Yogyakarta.

Beberapa karya tari yang sudah dihasilkannya antara lain Satu Berdua, Satria Selarong, Ruang Sempit, Cantrik Mentrik, Kidung, Asmoro dan Buruh Gendong.Gelar Tari Kontemporer kali ini mengusung tema “Mata Matra Mantra” yang menampilkan tiga kareografer muda yaitu, Arjuni Prasetyorini M. Sn “Titi Mangsa”, Tri Anggoro S.Sn “Urib Urub” dan Pulung Jati Ronggo Murti S.Sn “Siklus” yang kesemuanya mengandung seni hidup di budaya Jawa terutama YogyakartaInspirasi tarian ini tercipta dari kehidupan sehari-harinya dimana disekelilingnya banyak sekali tumbuh pohon pisang. Awalnya hanya ada keinginan untuk mengexplore daunnya saja, tapi kemudian malah dikembangkan lagi lebih jauh dengan dikaitkan jiwa manusia sebagai mana filosofi pohon pisang itu sendiri.

Tari Urib Urub memang cocok dibawakan dalam event-event tari kontemporer karena tarian ini lebih dari sebuah simbolisasi apa yang mau di sampaikan dengan bahasa gerak tubuh yang sifatnya lebih ke idealisme dari kareografernya.Komposisi didalamnya mengandung makna yang sangat dalam, didalam tampilannya ada seorang anak kecil yang disimbolkan sebagai buah dan tunas pohon pisang. Anak ini digendong yang diumpamakan pohon pisang yang berbuah dan setelah berbuah maka tumbuhlah tunas baru sebagai generasi penerus pohon ini.

Disini juga menvisualisasikan tempo dulu, dimana anak-anak kecil cukup bermain dengan debog (batang pisang) itu sudah sangat bahagia dengan dibuat pasaran, senapan bahkan pedang-pedangan, yang bagi anak-anak sekarang malah tidak tahu debog ini untuk apaGerak dalam tarian ini pada umumnya menggunakan gerak tari tradisi Jawa yang kemudian dikembangkan dengan gerak kontemporer sehingga tercipta gerak tari yang dinamis dan variatip dimana komposisinya lebih mengejar estetika visual.

Busana yang digunakan sangat sederhana dengan menggunakan kain putih seperti rok, sedangkan untuk anak-anaknya menggunakan busana anak-anak jaman dahulu dengan memakai iket, celana komprang, dengan riasan natural  dan propertinya semua mengandung unsur pohon pisang. Irama yang mengiringi tarian menggunakan iringan kontemporer dengan menggabungkan unsur tradisional dengan modern, tapi ada satu keunikan disini yang menampilkan iringan musik keroncong sebagai simbol jaman dahulu Sebuah makna yang sangat dalam dari sebuah pohon pisang, yang bisa di gunakan oleh manusia dalam kehidupan ini. Hidup harus berguna dan bermanfaat bagi sesama yang nantinya akan menuai energi posistip bagi kelangsungan hayat. Sebuah kesederhanaan dari filofosi orang Jawa dengan budayanya yang adi luhung, ujar Tri Anggoro S.Sn.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-urib-urub/
Comments
Loading...