Kesenian Tari Topeng Sekartaji, Tari Topeng Klasik Gaya Yogyakarta

0 45

Tari Topeng Sekartaji adalah sebuah tari topeng klasik gaya Yogyakarta yang mengisahkan tentang calon pendamping Panji Asmarabangun. Dewi Sekartaji adalah seorang putri Raja Kediri bernama Prabu Lembu Amilur dan lebih sering dikenal dengan nama Galuh Candra Kirana. Perilakunya yang anggun menawan dan memiliki wajah yang sangat cantik jelita serta tutur bahasa yang halus menyiratkan Putri Raja yang penuh dengan etika dan pengetahuan sebagai bekal seorang Putri Raja,  tersirat dalam tarian ini secara keseluruhan.

Ragam gerak pada Tari Topeng Sekartaji ini, secara garis besar hampir sama dengan gerak tari klasik gaya Yogyakarta putra alus. Beberapa tekanan-tekanan yang digunakan pada tarian ini, seperti gerakan obah lambung atau gerakan menggunakan gerakan perut. Tarian ini didominasi dengan gambaran muryani busana.

Gerak yang paling spesifik dari tari topeng, ada pada gerak tari topengnya yang memainkan ornamen-ornamen tiap gerak-geraknya. Gerak topengnya harus selalu bergerak dan tidak boleh diam. Hal ini untuk mengekspresikan tari topengnya walau geraknya halus,  tetap saja bergerak atau tidak mati. Inilah tarian dengan mengekspresikan topeng, bukan sekedar menari memakai topeng.

Busana yang dipakai Tari Topeng Sekartaji ini disesuaikan dengan karakter tokoh yang ditarikan yang mana karakternya sama dengan Dewi Shinta dalam lakon Ramayana yang mempunyai karakter brayak. Pada bagian kepala menggunakan irah-irahan mahkota yang sering di pakai Dewi Shinta dengan topeng alus warna hijau. Bajunya memakai rompi hitam dengan asesoris border warna emas, sumping, klat bahu, kalung susun tiga, slepe, sampur dengan motip cindhe.

Kain jariknya dengan motip parang, walaupun bisa menggunakan motip parang barong, klitik dimana ada atau tidak memakai gurdho, sesuai dengan kreasi penata busananya.Busana yang dikenakan pada tarian ini semua kiblatnya dari busana wayang orang, karakternya ada disini semua. Dulu tolak ukur tari klasik gaya Yogyakarta putri selalu berkiblat pada busana yang dipakai pada busana tari Bedhaya dan Srimpi. Baru setelah adanya Sanggar Kridha Beksa Wirama, salah satu sanggar tari yang hidup di luar tembok Kraton pada tahun 1818, terjadi perubahan yaitu memakai mekak dan kalaupun busananya tertutup, memakai kampuh (kain panjang seperti yang dipakai pada busana manten).

Iringan gendhing pada Tari Topeng Sekartaji menggunakan iringan slendro yang diawali dengan pobowo, bowo ini tumpuannya vocal, karena ini merupakan tarian klasik putri maka vokalnya juga putri. Yang kemudian dilanjutkan dengan masuk irama dua kemudian irama satu, dan terakhir suwuk. Ini merupakan pola-pola yang dijadikan pijakan tari-tari klasik putri atau tari yang alus-alus.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-topeng-sekartaji/
Comments
Loading...