Kesenian Tari Siklus Gelar Tari Kontemporer

0 136

Tari Siklus yang merupakan sebuah tari kontemporer yang didalamnya menceritakan tentang perjalanan hidup yang terdapat dalam sebuah rangkaian peristiwa yang terinstepretasikan dalam urutan tembang Mocopat sebagai rentetan peristiwa dari hidup sampai matinya manusia.

Perjalanan hidup manusia disimbolkan dalam tembang-tembang Mocopat seperti Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti, Asmaradhana, Dhandhanggulo, Gambuh, Durmo, Pangkur, Megatruh dan Pocung. Ke 11 tembang Mocopat ini sendiri dijadikan filosofi hidup bagi orang Jawa.

Tari Siklus merupakan ciptaan dari Pulung Jati Rangga Murti S.SN yang merupakan karya terbarunya, dimana tarian ini khusus diciptakan untuk ditampilkan pada Gelar Tari Kontemporer yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta sebagai UPTD Dinas Kebudayaan DIY, pada tanggal 18 Oktober 2018 mulai pukul 19.30 wib di Concert Hall TBY.

Pulung Jati Rangga Murti S.SN merupakan alumnus ISI Yogyakarta yang lahir pada tanggal 16 Juni 1992 di Yogyakarta. Beberapa kali menerima penghargaan dalam bidangnya seperti sebagai penata tari terbaik, sutradara terbaik dan pemeran utama putra terbaik dalam festival sendratari Yogyakarta. Beberapa karya tarian ciptaannya antara lain Sang Prawireng, Sinapa Sih, Potong Pulung dan Sembahan.

Gelar Tari Kontemporer kali ini mengusung tema “Mata Matra Mantra” yang menampilkan tiga kareografer muda yaitu, Arjuni Prasetyorini M. Sn “Titi Mangsa”, Tri Anggoro S.Sn “Urib Urub” dan Pulung Jati Ronggo Murti S.Sn “Siklus” yang kesemuanya mengandung seni hidup di budaya Jawa terutama Yogyakarta.

Komposisi dalam tarian ini didalamnya selain mengexplore tubuh penarinya, kareografernya juga ingin menghadirkan pendukung artistic lainnya seperti dance propery, lighting dan setting proprety yang membantu memberikan kekuatan dalam suasana atau visual yang ingin di sampaikan.

Beberapa symbol dihadirkan seperti Mijil sebagai symbol kelahiran seorang bayi yang muncul dari kemaluan seorang wanita dan instalasi sebagai simbol tentang perjalanan hidup manusia yang penuh rintangan dan cobaan.

Gerakan dalam Tari Siklus lebih cenderung menghadirkan bentuk yang abstrak yang banyak mengekspresikan dari tembang-tembang Mocopat, seperti sinom yang tergambar dalam gerak yang energik, semangat  dan dinamis sebagai simbol masa muda.

Pola lantainya juga mengadopsi simbol-simbol Mocopat seperti Asmorodhana dimana para penarinya melakukan gerak berkesinambungan tapi mempunyai banyak rasa (jiwa) yang mempunyai sifat secara global artinya adanya hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa.

Busana yang dikenakan lebih bersifat verbal (simbol-simbol) yang flat, berfungsi untuk memberikan keleluasaan gerak dari penarinya mulai dari awal kelahiran sampai megatruh (endhing) dengan symbol telanjang (durmo) sampai mati.

Iringan musiknya merupakan gabungan antara live berupa gamelan klasik Jawa sebagai roh Mocopatnya dengan midi yang ditambahi efeks  backsound-backsound computer.

Lewat tembang Mocopat kita dapat memaknai hidup, apapun yang terjadi Mocopat merupakan simbol yang penting dalam kehidupan masyarakat Jawa yang bisa dijadikan pegangan hidup dari lahir sampai mati yang bersandar kepada Yang Maha Kuasa, ujar Pulung Jati Ronggo Murti, S.Sn.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-siklus/
Comments
Loading...