Kesenian Tari Pingit

0 33

Tari Pingit yang merupakan sebuah tari kontemporer yang didalamnya menceritakan tentang adat pingitan yang berada di Muna Sulawesi Tenggara, adat tersebut mengharuskan seorang gadis /remaja untuk melaksanakan kegiatan tersebut dalam kurun seminggu.

Tapi adat istiadat ini mendapat tentangan dari sang gadis karena dia merasa perasaannya sedih, gundah, bosan dan bingung serta kesepian dalam masa pingitan di dalam ruang gelap tanpa penerangan apapun.

Tari Pingitan ini diciptakan oleh Deki Darmawan dan Ike Nurafifah Jatmi yang terinspirasi dari adat istiadat yang ada di Sulawesi Tenggara, yang mana pada jaman now (modern) ini masih juga dilaksanakan dimana seorang gadis diharuskan  tidur, makan di tempat gelap dan sendirian.

Tarian ini ditarikan di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dalam rangka ujian koreografi 3, pada tanggal 20, 21, 22  Januari 2019, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 39 karya, dengan pembagian 13 karya per harinya.

Ujian Koreografer 3 ini pada tahun ini mengangkat tema “Harmonisasi Warisan Nusantara” yang mempunyai makna, bagaimana cara menghargai keragaman Budaya Nusantara yang diwariskan ke generasi saat ini untuk dapat dilestarikan, dijunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung didalamnya serta diinovasi ke sebuah karya dengan cara harmoni.

Berangkat dari inilah para mahasiswa diharapkan mampu menciptakan karya inovasi seni koreografi secara harmoni atau berimbang dalam memadukan warisan budaya masa lampau ke karya seni koreografi inovatip yang enak dinikmati oleh para penontonnya.

Komposisi dalam Tari Pingit ini menggambarkan tentang kesedihan dan pertentangan adat istiadat dari seorang gadis yang merasa sudah selayaknya adat istiadat ini tidak relevan lagi di masa sekarang, tapi semua itu harus dia jalani karena dia juga masih menghargai adat istiadat ini.

Tari Pingit ini  geraknya berorientasi pada ragam gerak tari tradisi Makasar yang terdiri dari ragam gerak mondotambe, lulo, magellu, papangngan, wandiudiu yang kemudian dikembangkan dengan di beri variasi gerak-gerak yang dinamis dan variatif yang mendukung karakter dari  tarian ini yang disajikan dalam tipe dramatik.

Busana yang dikenakan dalam tarian ini terbagi menjadi 2 bagian, dimana di awal tarian di tampilkan busana tradisional dari Sulawesi Tenggara, kemudian ditengah tampilan menggunakan busana yang warnanya hitam dan merah yang memberi makna tentang kesedihan dan kemarahan yang dialami sang gadis pingitan.Irama yang mengiringi tarian ini memadukan musik melayu dengan musik dari Sulawesi pada bagian vocal, sehingga terciptalah sebuah paduan musik yang rancak dan dinamis, walaupun kesan tarian didalam sedih tetapi ditarikan dengan riang karena mempunyai sifat sebagai tari hiburan.

Sebuah tarian yang memperlihatkan pertentangan adat istiadat yang oleh anak jaman sekarang dianggap sudah tidak relevan lagi, tetapi bagaimanapun semua itu harus tetap dijalani sebagai adat istiadat yang semestinya ada dan harus dilestarikan budayanya karena ini semua merupakan keberagaman seni dan budaya yang ada di Indonesia, ujar Ike Nurafifah Jatmi.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-pingit/
Comments
Loading...