Kesenian Tari Pasar Ting, Festival Ratu Boko

0 19

Tari Pasar Ting Festival Ratu Boko

Tari Pasar Ting ini menceritakan tentang pasar sentir yang aktivitasnya pada malam hari yang ada di halaman Pasar Bringharjo.Jaman dahulu masyarakat Yogyakarta memilih pasar sentir sebagai tempat perbelanjaan yang murah, disini aktivitasnya adalah jual beli dengan aneka ragam barang-barang bekas, seperti baju, sepatu, celana dan sandal bekas, semua ada disini.Tarian ini diciptakan oleh Bima Satria Wardana yang diciptakan pada tahun 2018. Tarian ini dibuat diperuntukan untuk diikutkan lomba Pepsimida dengan tema kearifan lokal.

Tarian ini ditampilkan di Festival ratu Boko, yang diadakan pada tanggal 22-23 September sebagai tari pembuka (opening ceremony) pada tanggal 23 September, yang mana acara inti pada waktu itu menampilkan sendratari kontemporer yang merupakan icon Keraton Ratu Boko dengan sendratari Sumunaring Abhayagiri.Ting ini mengandung filosofi sebagai petunjuk arah bagi manusia didalam kegelapan untuk membedakan baik dan buruknya kehidupan manusia didunia ini yang harus dijalani dengan bersandar kepada Yang Maha Kuasa. Tari Pasar Ting sangat cocok ditarikan sebagai pembuka acara (opening ceremony) sebuah festival.

Karena struktur tarian ini diciptakan dalam bentuk yang tidak terlalu kontemporer maupun Jawa Klasik dan didalamnya ada adegan comical/lucu-lucuan sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan.Komposisi dalam tarian ini pada adegan pertama ada 3 penari yang melambangkan masyarakat Yogyakarta pada jaman dahulu adalah daerah gemah ripah loh jinawi, dengan tembang yang menceritakan berdirinya DIY yang diiringi musik keroncong.Dalam adegan berikutnya memunculkan andong sebagai alat transportasi tradisional yang sangat digemari oleh masyarakat dari jaman dahulu, yang banyak kita temui disepanjang jalan Maliboro, selain itu juga memunculkan tari dengan gaya Yogyakarta dikemenakannya diiringi dengan percampuran antara musik keroncong dengan gamelan.

Gerak dalam tarian ini mengacu pada ragam gerak tari Yogyakarta yang dikembangkan menjadi tari semi kontemporer yang mengandung unsur comical, hal ini dimaksudkan karena tarian ini sifatnya sebagai tarian hiburan. Selain itu juga memunculkan keangunan seorang wanita dengan gerak yang memperlihatkan kecantikannya tapi dengan sedikit genit.Komposisi lantainya sangat dinamis dan variatip, karena cenderung selalu bergerak dengan variasi yang sangat menarik yang mana tiap ganti musik maka selalu berganti pola lantainya, sehingga kesan yang di dapat sangat asik, tidak monoton dan kekinian.

Busana yang dikenakan sangat menarik dengan memadukan antara lurik dengan motip bunga-bunga dalam bentuk kebaya, lurik merupakan ciri khas dari Kota Yogyakarta, sedangkan bawahanya menggunakan semacam celana panjang dalam bentuk rok yang memungkinkan para penarinya bergerak bebas dan lincah. Sanggulnya memakai angka delapan, sanggul ini dulu popular dipakai oleh para wanita di Pasar Sentir di Halaman Pasar Bringharjo, yang ditambahakan sari ayu yang terbuat dari kayu-kayuan dan bunga-bunga.Propertinya menggunakan lampu ting, tenggok, payung yang berfungsi sebagai roda andong, kayu untuk adegan berjualan.

Riasan menggunakan riasan cantik dengan maksud ingin memunculkan wanita-wanita Yogyakarta yang sangat istimewa seperti kotanya.Pasar Ting lebih dikenal dengan Pasar Sentir dikala jaman now yang merupakan kegiatan tradisional yang perlu dilestarikan dan dikembangkan secara nyata terutama kaum muda, serta harus di kenalkan kepada masyarakat umum bahwa Yogyakarta sangat ramah dan perduli kepada lingkungan seni budaya untuk menarik wisatawan asing maupun lokal sebagai bagian dari pariwisata. Lampu Ting sebagai lambang sumber cahaya yang harus ada di hati manusia sebagai bagian hidup dengan bersandar kepada Yang Maha Kuasa.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-pasar-ting/
Comments
Loading...