Kesenian Tari Ndang Gling

0 38

Ndang Gling merupakan sebuah tari tradisi yang didalamnya menceritakan tentang perkembangan Jhatilan dari jaman dahulu hingga saat ini, dengan tetap berpijak pada akar tradisi yang dijadikan alternatif tanpa merubah dan mengurangi wirasa gerak khas Jhatilan tradisi.

Jhatilan tradisi hampir kehilangan jati diri, dengan dalih mengembangkan kreasi yang mengikuti perkembangan jaman (moderisasi), Jhatilan masa kini justru melunturkan gerak-geraknya yang menjadi pakem dalam tarian ini.

Dalam karya tari kali ini mengolah dan mengembangkan gerak-gerak Jhatilan tradisi yang sederhana sebagai motivasi penggarapannya. Semua digarap sesuai pakem Jhatilan dengan cara kreatif dan dinamis sehingga terlihat atraktif dalam karya ini.

Ndanggling, Ayo ndang podo eling, Wingi ora koyo saiki, dene saiki ora koyo wingi, Nanging umpama wingi karo saiki nyawiji, Mesti bisa dadi barang kang mukti, Koyo dene jhatilan tradisi lan masa kini, itulah sepenggal lagu dalam Jhatilan.

Ndang Gling adalah tari Jhatilan yang diciptakan oleh Tatas Pradhika Wahyu C dan Aprillia Laksita Dhevany pada tahun 2018 yang semuanya terinspirasi dari tari Jhatilan yang berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ndang Gling  ini ditarikan di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dalam rangka ujian koreografi 3, pada tanggal 20, 21, 22  Januari 2019, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 39 karya, dengan pembagian 13 karya per harinya.

Ujian Koreografer 3 ini pada tahun ini mengangkat tema “Harmonisasi Warisan Nusantara” yang mempunyai makna, bagaimana cara menghargai keragaman Budaya Nusantara yang diwariskan ke generasi saat ini untuk dapat dilestarikan, dijunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung didalamnya serta diinovasi ke sebuah karya dengan cara harmoni.

Berangkat dari inilah para mahasiswa diharapkan mampu menciptakan karya inovasi seni koreografi secara harmoni atau berimbang dalam memadukan warisan budaya masa lampau ke karya seni koreografi inovatip yang enak dinikmati oleh para penontonnya.

Gerak dalam tarian ini menggunakan ragam gerak Jhatilan tradisi yang dikembangkan yang sifatnya dinamis dan variatip, tapi masih mempunyai cirri khas yaitu speed and power serta ketahanan tubuh. Geraknya banyak pada volume kaki yang lebar, geyolan pinggul serta ekspresi wajah yang mempunyai sifat feminism.

Busana yang dikenakan pada bagian kepala menggunakan ikat lembaran yang dibentuk menyerupai blangkon sedangkan pada penari putrinya rambutnya di gelung. Pada bagian badan menggunakan baju yang sudah dikreasi dengan asesoris stagen, rampek, deker tangan, kericing kaki dengan property kuda lumping.

Iringan gendhingnya pada tarian ini menggunakan musik garapan yang merupakan gabungan antara musik gamelan klasik Jawa dengan musik Midi dengan dominan di suara kendang dengan maksud untuk lebih menghidupkan karakter daripada Jhatilan itu sendiri.

Dalam membuat karya tari pastilah kita mempunyai pedoman,atau akar yang kuat, seperti halnya dalam Jhatilan, dengan berkarya yang bebas dan kreatif tanpa meninggalkan pakem-pakemnya, pastilah akan menjadi sebuah karya yang enak untuk dinikmati dalam sebuah pagelaran, ujar Tatas Pradhika Wahyu.

Source https://myimage.id https://myimage.id/ndang-gling/
Comments
Loading...