Kesenian Tari Natah Yogyakarta

0 31

Tari Natah yang merupakan sebuah tari yang didalamnya menceritakan tentang  proses pembuatan cincin perak dan kehidupan para pengrajin perak rumahan di kawasan Kotagede  Yogyakarta yang  menjadi pusat dari berbagai perhiasan perak. Tarian ini diciptakan oleh Sari H Listyaningrum dan Rr.Vivi Widyoningtyas pada tahun 2018, karya tari ini terinspirasi dari pengalaman empiris dari Rr.Vivi Widyoningtyas yang tinggal di Kotagede Yogyakarta yang mana kehidupan sehari-harinya selalu di hadapkan dengan kegiatan para pengrajin perak ini.

Tari Natah ini ditarikan di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dalam rangka ujian koreografi 3, pada tanggal 20, 21, 22  Januari 2019, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 39 karya, dengan pembagian 13 karya per harinya. Ujian Koreografer 3 ini pada tahun ini mengangkat tema “Harmonisasi Warisan Nusantara” yang mempunyai makna, bagaimana cara menghargai keragaman Budaya Nusantara yang diwariskan ke generasi saat ini untuk dapat dilestarikan, dijunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung didalamnya serta diinovasi ke sebuah karya dengan cara harmoni.

Berangkat dari inilah para mahasiswa diharapkan mampu menciptakan karya inovasi seni koreografi secara harmoni atau berimbang dalam memadukan warisan budaya masa lampau ke karya seni koreografi inovatip yang enak dinikmati oleh para penontonnya. Komposisi dalam tarian ini terbagi menjadi beberapa segmen, dimana pada segmen pertama menggambarkan tentang proses pengeburan, segemen kedua menggambarkan tentang mencetak perak yang sudah di bur, segmen ketiga menggambarkan tentang proses menatah cincin dan segmen terakhir menggambarkan tentang keindahan cincin yang sudah jadi.

Gerak dalam tari Natah ini menggunakan ragam-ragam gerak tari gaya Yogyakarta yang dikembangkan secara dinamis dan variatif yang disesuaikan dengan alur cerita atau kebutuhannya dengan maksud agar penonton dapat menangkap dan mengerti isi dari tarian ini. Pola lantainya pun sangat dinamis, mulai dari bentuk bulat, diagonal dan lurus. Busana yang dikenakan menggunakan dominan warna putih dan coklat untuk menggambarkan ketulusan dari seorang pekerja yang menjalani pekerjaannya yang dipadukan dengan motif kain lurik yang khas dengan orang  Jawa jaman dahulu terkenal dengan kesederhanaannya.

Pada penari putrinya pada bagian kepala menggunakan sasakan dan model sanggul Jawa untuk menggambarkan ciri khas dari wanita Jawa, sedangkan pada penari  putranya menggunakan iket kepala dengan motif batik khas Yogyakarta. Sedangkan properti yang digunakan ada 3 buah, pertama adalah  alat bur, yang di gambarkan dengan tongkat yang dilapisi degan kertas perak, yang kedua yaitu tempat untuk mencetak, berupa kotak hitam panjang dan yang terakhir cincin perak, berupa bentuk lingkaran berdiameter setengah meter yang dilapisi kertas perak.

Iringan gendhing dalam tari ini menggunakan gamelan klasik Jawa yang dipadukan dengan alat musik modern  seperti bas, gitar dan biola yang kemudian juga ditambahkan dengan aksen-aksen lain, sehingga terciptalah sebuah iringan tari yang dinamis dan variatif yang membuat penontonnya lebih bergairah menyaksikan pertunjukan tari ini. Cincin perak buatan pengrajin Kotagede memang indah dan menarik, selain itu bisa menyaksikan proses pembuatannya pastilah sesuatu yang special sekali. Masyarakatnya yang turun temurun mewarisi keahlian ini sampai sekarang masih eksis di bidang ini. Sebuah konsisitensi yang besar dalam melestarikan seni kerajinan perak yang layak mendapat apresiasi yang besar dari masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta, ujar Sari H Listyaningrum.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-natah/
Comments
Loading...