Kesenian Tari Mung Dhe, Kabupaten Nganjuk

0 55

Kesenian Tari Mung Dhe, Kabupaten Nganjuk

Kesenian atau tari Mung Dhe, adalah salah satu dari berbagai kesenian khas Nganjuk yang berasal dari Kabupaten  Nganjuk. tari Mung Dhe menggambarkan gerakan perjuangan.

Sejarah kelahiran Kesenian Mung Dhe tidak dapat dilepaskan dari kejadian di Jawa Tengah pada awal abad kel9, yaitu terjadinya Perangan Diponegoro 1825 – 1830. Kegagalan perjuangan Diponegoro di Jawa Tengah mengakibatkan pengikutnya tersebar ke seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di tempat yang baru ini ada diantara mereka yang sekedar mengungsi untuk menyelamatkan diri, dan ada juga yang terus melanjutkan perjuangan walau dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melalui dakwah keagamaan, lewat kesenian tertentu dan ada juga yang terang-terangan.

Seperti halnya kesenian Mung Dhe yang ada sekarang ini, semula diciptakan oleh sisa-sisa Prajurit Diponegoro yang menetap di Desa Termas Kecamatan Patianrowo. Kesenian ini diciptakan secara bersama-sama oleh 14 orang yang kesemuanya masih ada hubungan keluarga. Ke 14 orang itu adalah : Kasan Tarwi, Dulsalam, Kasan War, Kasan Taswut, Mat Khasim, Suto, Samido, Rakhim, Mat Ngali, Mat Ikhsan, Mat Tasrib, Baderi Mustari dan Soedjak.

Penciptaan kesenian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan prajurit Diponegoro yang tersebar di berbagai daerah. Dengan gerakan-gerakan yang khas (menggambarkan gerakan perjuangan), yaitu latihan baris berbaris dan adegan perang, tari ini memang sarat dengan nilai perjuangan. Cara seperti ini mereka tempuh untuk mengelabuhi Belanda yang selalu mengikuti dan mengintai kemana sisa-sisa prajurit Diponegoro berada, ternyata penyamaran mereka tidak diketahui oleh Belanda. Belanda tidak mengetahui kalau para anggota kesenian Mung Dhe tersebut adalah para prajurit yang sedang berlatih baris berbaris dan latihan perang. Pimpinan prajurit itu menyamar (menutupi wajahnya) dengan memakai topeng, dengan gerakan-gerakan yang lucu sebagai penthul dan tembem. Kesenian ini kemudian keliling (mengamen) dari suatu tempat ke tempat lainnya, sehingga akhirnya menjadi tontonan rakyat yang digemari dan berkembang pesat tidak hanya di Desa Termas saja tetapi terus berkembang di daerah sekitarnya.

Seni sebagai alat komunikasi yang halus atau sebagai alat penghubung antar jiwa manusia, semua orang tentu sudah maklum. Demikian juga seni tari. Sebagai alat komunikasi seni tari menggunakan gerakan-gerakan anggota tubuh tertentu dengan penuh makna sebagai ungkapan jiwa. Sebagai salah satu alat penyampai pesan gerakan tari harus komunikatif, agar mudah diterima oleh penerima pesan atau penonton. Ungkapan gerakan tari dari awalnya hingga akhir memiliki suatu kesatuan makna dan sekaligus nama. Misalnya : Tari Merak, Tari Tani, Tari Perjuangan, Tari Pergaulan dan lain-lainnya gerakan tarinya tentu menggambarkan gerakan yang diwakilinya. Dalam mengekpresikan suatu tarian yang diwakilinya dituntut kesesuaian tema, makna serta karakter dari tarian yang dibawakannya, sehingga tuntutan kaidah suatu komposisi tari dan ciri khas dari tarian itu sendiri bisa terpenuhi.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/06/10/kesenian-atau-tari-mung-dhe-kabupaten-nganjuk/

Leave A Reply

Your email address will not be published.