Kesenian Tari Minakjinggo Dayun, Gelar Budaya Ngesti Langen Budaya DIY

0 61

Tari Minakjinggo Dayun

Tari Minakjinggo Dayun adalah sebuah tari gabungan antara ragam tari klasik gaya Surakarta dengan Yogyakarta yang menceritakan tentang hubungan antara Prabu Minakjinggo dengan abdinya bernama Dayun. Dayun bertugas agar Prabu Minakjinggo selalu bergembira, tidak sedih dan terpuruk dalam mendapatkan cintanya dengan Ratu Kencono Wungu dengan segala kegejulannya (kelucuan). Ide cerita tarian ini mengambil cerita rakyat yang melegenda di jaman kerajaan Majapahit yang lebih dikenal dengan cerita ‘Damarwulan Minakjinggo’. Dikisahkan Ratu Kencono Wungu mendapatkan ilham yang bisa mengalahkan Minakjinggo adalah seorang pemuda yang bernama Damarwulan. Maka dia mengutus Patih Logender untuk mencari Damarwulan. Patih Logender mengutus dua putranya, Layang Seto dan Layang Kumitir.

  

Walaupun diutus oleh ayahya keduanya tetap saja iri dan dengki kepada Damarwulan, karena Damarwulan sudah mempunyai istri Anjasmoro. Dikisahan Damarwulan bisa memenggal kepala Minakjinggo dengan bantuan ke 2 istri dari Minakjinggo yang jatuh hati padanya, yaitu Dewi Wahila dan dewi Puyangan. Dalam perjalanan pulangnya Damarwulan dihadang oleh Layang Seto dan Layang Kumitir dan Damarwulan di buang di jurang. Walaupun di buang dijurang dia diselamatkan oleh arwah ayahnya. Layang Seto dan Layang Kumitir menyerahkan kepala Minakjinggo kepada Ratu Kencono Wungu, tapi ternyata sang Ratu merasa ragu kalau yang memenggal kepala Menakjinggo keduanya. Damarwulan yang selamat akhirnya menemui Ratu Kencono Wungu dan menjelaskan semuanya. Akhirnya Damarwulan bertempur dengan Layang Seto dan Layang Kumitir, yang dimenangkan oleh Damarwulan dan dia mendapatkan hadiah naik tahta di Kerajaan Majapahit dan memperistri Ratu Kencono Wungu.

Tari Minakjinggo Dayun ditarikan pada pagelaran Gelar Budaya yang diadakan oleh Sanggar  Langen Budaya yang diadakan pada hari Sabtu, tanggal 28 Juni 2018, mulai pukul 18.00 wib, tepatnya di Pendopo Ciptanan, Jalan Nitiprayan RT 04 Kasihan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerak pada Tari Minakjinggo Dayun terbagi dua, dimana ragam gerak tari Minakjinggo menggabungkan dua tari klasik gaya Surakarta dengan Yogyakarta, sedangkan Dayun menggunakan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta. Memang tidak terlalu beda kedua ragam keduanya dimana ragam gerak tari gaya Yogyakarta lebih tegas sedangkan tari Surakarta lebih halus dan lembut. Ragam gerak tersebut antara lain gerak sabetan, ulap-ulap, pondongan, atrap jamang, walik bumi, tumpang tali, sembahan, trisik, tayungan. Sedangkan pola lantai yang digunakan sangat variatip sekali sehingga mengakibatkan tariannya menjadi lebih dinamis dan harmonis.

Busana yang digunakan Minakjinggo pada bagian kepala menggunakan irah-irahan dengan bentuk makuto, sumping, busananya menggunakan ‘teni’ (busana Raja), kalung susun 2, celana panji, kainnya menggunakan motip parang, unjal, boro, gelang kaki, sampur cinde, baju lengan panjang dan klat bahu. Sedang busana yang dikenakan Dayun menggunakan iket kepala, busana gabungan antara lengan panjang dan rompi, celana panji, kainnya menggunakan motip kawung, sabuk timan dan sampur cinde. Riasan yang digunakan menggunakan riasan gejul dan gagah yang lebih mempertegas karakter keduanya dimana Dayun lebih pada karakter gejul (lucu) sedangkan Minakjinggo dengan karakter gagah dan berwibawa sebagai seorang Raja. Iringan pada Tari Minakjinggo Dayun menggunakan gendhing-gendhing ricik-ricik, mriwis dan diakhiri dengan bendrong yang dikemas dalam musik jawa klasik (gamelan) Makna yang dihadirkan dalam tarian ini adalah kerjasama antara dua manusia yang saling mengisi sehingga keduanya mendapatkan apa yang diinginkan. Kerjasama ini dilakukan dengan saling menghormati dan saling membantu satu sama lain dengan rasa saling tanggung jawab.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-minakjinggo-dayun/
Comments
Loading...