Kesenian Tari Kolosal, Kabupaten Magelang

0 31

Kesenian Tari Kolosal, Kabupaten Magelang

Dahulu kala, sebuah wilayah menjadi tempat strategis untuk transit orang-orang dari Jawa bagian timur. Mereka hendak melakukan ritual di sepanjang pegunungan Dieng sampai Sindoro. Di wilayah yang kini bernama Kota Magelang itu terjadi akulturasi budaya dan interaksi dengan warga setempat. Perekonomian di wilayah itu pun menjadi makmur. Namun kondisi itu tidak berlangsung sama semenjak kedatangan gerombolan pengacau ‘Kecu Brandal Rampok’ yang mengusik ketenangan masyarakat. Keadaan berubah chaos, keamanan dan kestabilan terganggu. Lalu muncul tokoh-tokoh yang membentuk kekuatan secara mandiri.

Tidak kurang 230 penari, yang terdiri dari para pelajar, sanggar seni dan komunitas masyarakat terlibat dalam pagelaran megah ini. Mereka menampilkan koreografi dan musik nan epik. ” Tari kolosal ini terinspirasi dari kisah yang tercatat di Prasasti Poh dan Mantyasih tentang Raja yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno, dan Kota Magelang sebagai sebuah daerah yang merdeka atau perdikan ‘Mantyasih’,” kata Gepeng Nugroho, sang sutradara tari tersebut.

Tarian ini selalu ditampilkan dalam rangkaian “Grebeg Gethuk” dengan koreografi dan drama yang berbeda. Jumlah penari tahun ini ini lebih banyak dibandingkan tahun 2017 lalu, yang hanya sebanyak 170 penari. “Kami berlatih sebulan, memadukan musik, drama, koreografi dalam cerita asal usul berdirinya Kota Magelang. Kami ingin mengangkat bagaimana Kota Magelang berdiri menjadi daerah perdikan yang merdeka yang ditetapkan Raja Dyah Balitung,” ujarnya. Tari kolosal berjudul ” Babad Tanah Mantyasih” ini menjadi bagian prosesi Grebeg Gethuk.

Sebelumnya dilakukan ritual di lokasi prasasti Mantyasih di Kampung Meteseh, Kacamatan Magelang Utara. Selanjutnya, kirab gunungan hasil bumi sebanyak 17 buah, sejumlah kelurahan di Kota Magelang, berkeliling Alun-alun lengkap dengan pasukan Bregada yang mengawal. Sampai di lapangan Alun-alun gunungan-gunungan itu dikumpulkan bersama dua gunungan gethuk (makanan dari olahan singkong). Setelah itu, diadakan upacara adat Jawa dan doa bersama serta mengucapkan harapan untuk Hari Jadi Kota Magelang. Ribuan warga yang menyaksikan prosesi ini pun langsung merangsek berebut gunungan-gunungan itu. Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito, mengatakan, adanya dua gunungan gethuk ini mengandung makna filosofis tentang kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Kota Magelang. Sementara gunungan palawija ini menggambarkan Kota Magelang yang subur dan kaya akan hasil bumi.

Source https://travel.kompas.com https://travel.kompas.com/read/2018/04/16/074200527/tari-kolosal-hadirkan-sejarah-kota-magelang-dalam-grebeg-gethuk-

Leave A Reply

Your email address will not be published.