Kesenian Tari Beksan Lawung Ageng Yogyakarta

0 39

Kesenian Tari Beksan Lawung Ageng Yogyakarta

Tari Beksan Lawung Ageng atau ada yang menyebutnya dengan nama Tari Beksan Lawung adalah pertunjukan seni tari yang berasal dari Kraton Yogyakarta. Tari ini dibawakan oleh 16 (enam belas) orang penari yang semuanya merupakan laki-laki yang terdiri dari 2 orang botoh, 4 orang lurah, 4 orang jajar, 4 orang pengampil, dan 2 orang salaotho.

Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangukubumi pada tahun 1755-1792 menciptakan tarian salah satu beksan ini. Beksan ini diilhami oleh keadaan waktu dimana ada kegiatan prajurit-prajurit sebagai abdi dalem raja selalu mengadakan latihan watangan.

Latihan watangan adalah berlatih ketangkasan berkuda dengan membawa watang atau lawung yaitu sebuah tongkat panjang yang kurang lebih 3 meter berujung tumpul dan silang menyodok untuk menjatuhkan lawan. Tari Beksan Lawung Ageng Lawung Ageng merupakan usaha dari Sultan untuk mengalihkan pehatian Belanda terhadap kegiatan prajurit Kraton Yogyakarta.

Pada masa itu dalam suasana perang dansultan harus mengakui serta tunduk segala kekuasaan Belanda di Kasultanan Yogyakarta. Sultan harus patuh pada segala perintah maupuan peraturan yang telah ditentukan termasuk olah keprajuritan.

Latihan keprajuritan dengan menggunakan senjata dilarang oleh Belanda maka sultan mengalihkan olah keprajuritan ke dalam bentuk beksan yaitu Beksan Lawung. Melalui Tari Beksan Lawung ini sultan berusaha untuk membangkitkan sifat kepahlawanan prajurit kraton pada masa perang tersebut.

Tari Beksan Lawung Ageng menunjukkan semangat dan keberanian melalui gerakan-gerakan tari. Oleh karena itu tema dalam kraton khsusunya Beksan Lawung kebanyakan bertema kepahlawanan. Tarian Beksan berisi sindiran-sindiran halus sebagai ungkapan rasa tidak senang sultan terhadap pembesar-pembesar Belanda di Kraton Yogyakarta.

Selain itu Beksan lawung diangkat sebagai tari ritual wakil sultan dalam upacara perkawinan putra dan putrinya. Bukan semata-mata sebagai wakil yang wedang tetapi juga wakil kawruh urip yang harus dicerna oleh kedua mempelai lewat keseluuruhan pagelaran.

Hakekat pesan ini secara transparan diutarakan lewat lagon diawal pertunjukan Beksan Lawung sebagai petuah sultan tentang perkawinan yang diakhiri dengan simbol kesuburan. Dalam Bekasn Lawung, laki-laki disimbolkan dengan tongkat atau lawung sedangkan perempuan dilambangkan dengan tanah. Tanah sebagai bumi sering disebut ibu pertiwi sebagai lambang perempuan.

Source https://teamtouring.net/ https://teamtouring.net/tari-beksan-lawung-ageng-kraton-yogyakarta.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.