Kesenian Tari Bedhaya Wanodya

0 45

Tari Bedhaya Wanodya

Tari Bedhaya Wanodya adalah sebuah tarian klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang pengorbanan seorang ibu (Roro Lembayung)  untuk anaknya yang bernama Joko Umbaran demi pengakuan seorang ayah yang bernama Danang Sutowijoyo. Sebelum Joko Umbaran lahir, Danang Sutowijoyo berpesan kepada Roro Lembayung agar kalau nanti anaknya lahir jangan sampai tahu bahwa ayahnya itu adalah dia (Danang Sutowijoyo). Tapi setelah anaknya lahir dan besar, anaknya bertanya-tanya kepada ibunya (Roro Lembayung) siapa sebenarnya ayahnya.

 

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Roro Lembayung, karena dia ingat pesan terakhir ketemu dengan Danang Sutowijoyo sebelum meninggalkan dirinya. Tapi akhirnya Roro Lembayung memberikan pasemon (kiasan-kiasan petunjuk) secara tidak langsung siapa ayah dari Joko Umbaran. Petunjuk tersebut menyebutkan ayah dari Joko Umbaran adalah pemilik alon-alon di pusat Kerajaan. Berangkatlah Joko Umbaran mencari pemilik alon-alon di pusat Kerajaan, tetapi sampainya dia disana malah kebingungan mencari pemiliknya. Tapi dia tidak kehilangan akal untuk mencarinya, dia membuat onar di alon-alon tersebut dan dia ditangkap kemudian dihadapkan Raja yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Dihadapan Raja dia menyampaikan asal-usul dirinya.

Mendengar cerita tersebut, Raja (Danang Sutawijaya) sadar bahwa yang dihadapannya adalah anaknya. Dia sangat kecewa dengan Roro Lembayung yang telah mengingkari janjinya. Danang Sutawijaya menyampaikan syarat kepada Joko Umbaran, dia akan tahu siapa ayahnya kalau syarat itu dipenuhi. Joko Umbaran di beri keris dan di suruh mencari sarungnya berupa kayu cendana sari bergaris putih. Selanjutnya Joko Umbaran kembali ke Ibunya.

Dia menceritakan syarat dari Raja dan seketika Roro Lembayung tahu bahwa Danang Sutawijaya tidak suka tindakannya telah mengingkari janji. Roro Lembayung tidak mau hidup dengan rasa malu dan tetap ingin agar anaknya mendapat pengakuan dari ayahnya. Dalam sekejap Roro Lembayung menabrakan dirinya ke keris yang dipegang anaknya. Keris menghujam ditubuhnya dan dia meninggal. Disini Joko Umbaran tidak tahu bahwa syarat yang di minta Danang Sutawijaya adalah kematian Ibunya.

Tapi dengan kematian ibunya ini Joko Umbaran menyadari bahwa sarung keris cendana sari bergaris putih tak lain adalah ibunya, perempuan yang telah melahirkan dirinya. Joko Umbaran kembali ke Danang Sutawijaya dan akhirnya diakui sebagai anaknya. Tarian ini mengangkat tema Kesenian Tradisi yang mengangkat cerita rakyat Roro Lembayung yang dirubah para mahasiswa menjadi sebuah karya tari dalam bentuk Bedhaya yang jumlah penarinya 9 orang. Tari Bedhaya Wanodya juga menggambarkan wujud manusia secara utuh, dimana menggambarkan 9 lubang yang ada ditubuh manusia, yang mempunyai makna kalau manusia sudah bisa menutup babagan hawa songo (menutup lubang napsu manusia) maka dia sudah dapat dikatakan sebagai manusia yang menep dan sareh.

Karakteristik Tari Bedhaya Wanodya merupakan tarian yang luruh atau mempunyai deep control yang bagus dalam rasa. Dalam setiap tari Bedhaya semua mempunyai laku yang khusus, hanya yang membedakan Bedhaya satu dengan lainnya dalah isi cerita dalam tariannya. Gerakan dalam Tari Bedhaya Wanodya masih mengambil ragam gerak tari putri klasik gaya Yogyakarta yang dikembangkan dan dikurangi oleh para mahasiwa, seperti impang ngewer udhet, impang lembehan, impang encot, setelah itu rakit tigo-tigonya adalah bangomate, gudhawa asta minggah, pucang kanginan, jangkung miling, gundhuh sekar yang kesemuanya itu mengikuti istilah dari alam seperti ombak banyu (ombak air) dan wedhi kenser (berjalan diatas pasir).

Busana yang digunakan pada Tari Bedhaya Wanodya menggunakan dodotan dimana pada tarian ini menggunakan slepe, sampur warna hijau, kain bawah yang menggunakan motip parang gendreh, walaupun sebenarnya banyak juga yang menggunakan motip yang lain seperti motip parang barong, klitik dimana ada yang pakai atau tidaknya memakai gordo. Riasan pada tarian ini menggunakan riasan korektip  yang memperkuat kecantikan penarinya ketika tampil dipanggung, selain itu pada tarian ini penari menggunakan gelung bokornya pada rambut penari. Untuk iringannya memakai Gamelan Jawa Klasik dengan menggunakan gendhing gendhing ketawang.

Kesemua tari klasik gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem atau yang biasanya disebut joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah) yang semua ini dapat di tarikan  secara utuh dan bagus harus dengan latihan secara rutin. Sebuah tarian yang mempunyai seni dan budaya secara keseluruhan mempunyai makna sebagai lambang kehidupan yang berisi norma-norma yang dapat dijadikan tuntunan bagi manusia yang lebih menep dan sareh.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-bedhaya-wanodya/
Comments
Loading...