Kesenian Tari Bedhaya Senopaten Pendopo Prangwedanan Pura Mangkunegaran

0 18

Bedhaya Senopaten yang merupakan sebuah tafsir/rekontruksi yang sudah ada  Bedhaya Senopaten Sukopratama,  tarian Bedhaya ini ciptaan dari Mangkunegaran I yang merupakan karya monumental yang ke 3 dalam wujud tari.

Karya monumental yang pertama adalah Bedhaya Angklir Mendung dan yang ke dua adalah Bedhaya Diridameta dan yang ke tiga adalah Bedhaya Sukapratama. Bedhaya yang ketiga inilah yang kemudian ditafsirkan/direkontruksi yang menjadi inspirasi yang berlatar belakang tentang merebut benteng Vastenburg  Yogyakarta.

Bedhaya Sukopratama ini direkonstruksi oleh Daryono dalam konteks Bedhaya Sukopratama yang besar tapi hanya dilihat susunan yang mengukuhkan Daryono sebagai koreografer yang spesialis tari Bedhaya Kakung. Semua ini digunakan sebagai Pertanggung Jawaban Ujian Terbuka Promosi Doktor Daryono, yang dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 6 Pebruari 2019, pada pukul 10.00 wib sampai 14.00 wib di Pendopo Prangwedanan Pura Mangkunegaran Surakarta.

Daryono lahir pada tanggal 11 Nopember 1958 di Wonogiri, posisi sekarang sebagai salah satu staff pengajar di ISI Surakarta. Beberapa karya beliau yang berhubungan dengan Bedhaya diantaranya, Bedhaya Diridameta, Bedhaya Matah Hati yang tampil pertama di negara Jepang dan Bedhaya Samparan Matah Hati.

Beberapa tanggapan dari teman maupun kolega yang menghadiri acara ini sangat positip, mulai menyinggung koreografernya sampai irama gendhing yang mengiringi  tarian ini.

Luar biasa, sebuah ujian karya atau penciptaan S3 yang ditata sangat bagus, dimana disini mengingatkan bahwa Daryono sebagai seorang penari yang konsisten pada gaya Surakarta (Mangkunegaran). Sebuah karya tari dengan unsur-unsur Jawa yang sangat lengkap yang merupakan kolaborasi antara gaya Yogyakarta dengan gaya Surakarta, ujar Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn (Dosen ISI Yogyakarta).

Sebuah proses yang panjang dalam sebuah sajian yang luar biasa, bahwa seniman dibalik ini semua mempunyai sebuah pemikiran dan wawasan yang luas. Ini semua ada tataran-tatarannya yang harus dilalui dengan proses yang panjang mulai dari pendalaman sampai tataran magis dengan hasil pertunjukan dengan kekuatan yang utuh, ujar Wahyu Santoso Prabowo yang ikut merekonstruksi gendhing yang digunakan dalam tarian ini.

Komposisi dalam tarian ini mencoba mengungkap nilai nebu sauyun dimana didalamnya ada pelajaran tentang saling menghargai, saling bersatu, kesamarataan, saling membantu sesama umat manusia untuk mewujudkan sebuah toleransi di muka bumi ini dalam hidup bermasyarakat.

Gerak dalam tari Bedhaya Senopaten ini merupakan perpaduan antara ragam gerak tari Yogyakarta dengan ragam gerak gaya Mangkunegaran (Surakarta), dimana pada tahun 1757 itu merupakan tahun-tahun budaya besarnya adalah Mataraman sehingga semua berkiblat kesana.

Sedangkan pola lantainya digarap seperti Bedhaya pada umumnya dengan menggunakan gelar perang, misalnya supit urang, cokro biwoho dan beberapa garis-garis yang mengindikasikan gelar perang.

Busana yang dikenakan dalam Bedhaya Senopaten, menggunakan dodotan yang dilengkapi dengan buntal, kalung, klat bahu, slempang, penanggalan dengan iket lembaran yang dimodel jingken dengan menggunakan properti tombak, senapan laras pendek dan pistol.

Sebuah tarian Bedhaya yang menyampaikan pesan tentang menggali nilai-nilai wigati yang bagus sebagai pedoman hidup dimasyarakat yang lebih luas (Nebu Sauyun) diungkap kembali yang menjadi kekinian sesuai dengan jamannya, ujar Daryono.

Source https://myimage.id https://myimage.id/bedhaya-senopaten/
Comments
Loading...