Kesenian Solo: Tari Anilo Prahasto

0 37

Tari Anilo Prahasto

Tari Anilo Prahasto adalah sebuah tari klasik gaya Surakarta yang ide ceritanya mengambil dari epos Ramayana yang menceritakan tentang peperangan antara Anilo dengan Prahasto.Anilo adalah Senopati Kerajaan Pancawati, dimana membela Prabu Rama Wijaya yang merupakan simbol kebenaran, sedangkan Prahasto adalah Patih Kerajaan Alengka Diraja. Keduanya bertanding mengadu kesaktian, walaupun sama-sama sakti tapi pada akhirnya dimenangkan oleh Anilo.

Disini juga diceritakan kekalahan Prahasto dengan cara Anilo menggunakan tugu batu yang besar yang digunakan untuk memukul Prahasto sehingga tubuh dan kepala Prahasto hancur. Ternyata tugu batu besar tersebut merupakan perwujudan dari Indradi yang tak lain adalah Ibu kandung dari Raja Sugriwa yang dikutuk oleh Resi Gotama karena berselingkuh dengan Batara Surya.

Dengan kematian dari Prahasto oleh pukulan Anila menggunakan tugu batu ini, malah membebaskan Indradi dari kutukan Resi Gotama.Tarian ini ditarikan oleh Sanggar Soerya Soemirat GPH. Herwasto Kusumo Pura Mangkunegaran Surakarta pada pegelaran seni tari di Ndalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 51, tepatnya pada tepat tanggal 15 September 2018. Acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Sanggar Soerya Soemirat GPH. Herwasto Kusumo Pura Mangkunegaran Surakarta merupakan sanggar tari yang berpusat di Ndalem Prangwedan Pura Mangkunegaran. Sanggar ini didirikan oleh Alm. Gusti Pangeran Herwasto Kusumo pada tanggal 2 Oktober yang awalannya dulu ada 2 grup yaitu grup Soeryo Soemirat yang mengajarkan tari klasik dan Kinarya Soeryo Soemirat yang mengajarkan di bidang tari kontemporer.

Kemudian semua itu terjadi perubahan dimana pada tahun 1990 sanggar Soeryo Soemirat lebih fokus pengajaran di bidang tari klasik sedangkan pada tahun 1995 sanggar Kinarya Soeryo Soemirat fokus pengajaran  di bidang tarian kontemporer sampai sekarang. Ragam gerak dalam Tari Anilo Prahasto menggunakan ragam gerak klasik gaya Surakarta dimana Anilo adalah kera yang menggunakan ragam gerak kera yang biasanya disebut dengan tanjak kambeng yang geraknya memadukan gerak gagah, antep, lincah serta atraktif.

Sedangkan Prahasto menggunakan ragam gerak yang disebut dengan bapang, dimana gerak tangan maupun kakinya lebih lebar dan gagah hal ini karena Prahasto adalah raksasa yang mempunyai tubuh lebih besar sehingga geraknya lebih menawan. Pola lantainya masih mengacu pada pakem yang sudah ada atau masih konvensional yang mengambil dari Wayang Orang dimana terbagi menjadi 3 yaitu maju beksan, inti beksan dan mundur beksan.

Busana yang dikenakan dalam Tari Anilo Prahasto, mengacu pada apa yang diperankan, dimana Anilo menggunakan irah-irahan gunung keling, jamangnya lung-lungan, busana lengan panjang warna biru tua, tayib, cangkeman kera, slepe, kalung, sampur, jarik dengan motip parang. Sedangkan Prahasto menggunakan gimbalan rambut panjang, cangkeman raksasa, celana panjang dengan motip cinde, gelang tangan, slepe, sampur cinde.

Iringan gendhing pada Tari Anila Prahasta menggunakan gamelan klasik Jawa, dengan gendhing odho-odho, ketawang, palaran dan diakhiri dengan sampak Tari Anilo Prahasto. Sebuah tarian klasik yang ditarikan oleh generasi muda yang merupakan anak-anak dari Sanggar Soerya Soemirat GPH. Herwasto Kusumo Pura Mangkunegaran Surakarta yang layak mendapat apresiasi, karena di tangan mereka inilah tarian ini dapat dikembangkan dan dilestarikan secara nyata dan diolah menjadi sebuah kesinambungan sampai kapanpun serta mengikuti perkembangan jaman sekarang ini ujar Trisno, ketua Soerya Soemirat GPH. Herwasto Kusumo Pura Mangkunegaran Surakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-anilo-prahasto/
Comments
Loading...