Kesenian Seblangan, Kabupaten Banyuwangi

0 47

Kesenian Seblangan, Kabupaten Banyuwangi

Seblangan di Kelurahan Bakungan.

Yang dimaksud dengan Seblangan adalah suatu kegiatan pementasan kesenian yang disebut Sebiang, yaitu suatu bentuk kesenian yang bersifat sakral ritual, yang diselenggarakan pementasannya dalam rangka upacara atau selamatan desa yang disebut “Bersih Desa” Bakungan sendiri pada perkembangan sekarang ini te­lah berubah statusnya menjadi kelurahan, yaitu penye­butan untuk wilayah terkecil setingkat Desa menurut strukturnya pemerintahan yang berada di dalam wila­yah kecamatan perkotaan.

Sekilas mengenai Kesenian Sebiang.

Kehidupan masyarakat Bakungan mulai ter­bentuk diperkirakan bersamaan waktunya dengan masa kejayaan Kerajaan Blambangan akhir, yang pada saat itu Blambangan diperintah oleh sang Raja bernama Prabu Tawang Alun, beribu kota di Macan Putih, lokasinya terletak di Kecamatan Kabat sekarang.

Salah satu bukti sejarah bahwa di Cungking, yaitu suatu dusun yang berdekatan langsung dengan Kelurahan Bakungan terdapat makam Buyut Wongsokaryo atau terkenal dengan Buyut Cungking, yang berdasarkan berbagai catatan dan kepercayaan masyarakat adalah seorang Guru Sakti dari raja Tawang Alun.

Benda-benda milik Buyut Wongsokaryo berikut berbagai bentuk upacara pemeliharaannya masih hidup secara lestari dilingkungan masyarakat Bakungan dan Cungking yang merasa sebagai pewaris dari Buyut Cungking. Benda-benda kuno peninggalan Buyut Cungking tersebut antara lain berupa berbagai bentuk pusaka, barang- barang keramik dan perkakas yang lain serta perkakas rumah tangga yang bersifat lama dan masih terawat dengan baik sampai sekarang.

Adapun berbagai kegiatan upacara yang masih berlangsung sampai sekarang antara lain berbentuk Seblangan Resik Kagungan dan Selamatan di Balai Tajuk.

Khususnya mengenai kegiatan upacara Sablangan, di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyuwangi hanya terdapat di Kelurahan Bakungan dan di Desa Oleh dari, kedua-duanya berada di wilayah Kecamatan Glagah, masing-masing terletak 2 Km dan 6 Km dari kota Banyuwangi, tetapi pada sekitar tahun 1940 -an di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi terdapat bentuk kesenian yang disebut “Sayang”, yang mempunyai prinsip dan motif yang hampir sama dengan kesenian Sebiang.

Pementasan.

Suasana siap melakukan tugas bagi para perangkat penyelenggaraan pementasan akhirnya di­isi dengan penampilan gending pertama yang disebut Sebiang Lakento. Gamelan ditabuh, penari mulai menari dengan gerak-gerik yang sederhana yang bersifat khas dari bentuk tarian Sebiang, kemudian Pengundang memulai juga mendampingi penari Seb­iang sambil -menirukan berbagai gerak tarian Penari Sebiang biasanya ditambah juga dengan gerak-gerik gecul untuk memeriahkan suasana.

Dalam rangkaian penampilan lagu-lagunya ada yang di sebut Gending Mendem Gadung. Pada saat ini biasanya petugas yang lain menjajahkan kembang telon yang disebut degan istilah “Ider Kembang”, untuk satu sunting biasanya diganti dengan uang sebesar antara Rp. 25,00 sampai tak terbatas sesuai dengan keikhlasannya. Pada saat ini biasanya sangat disenangi oleh para remaja, dengan kepercayaan bahwa suntingan kembang telon ter­sebut dapat dipergunakan sebagai sarana sukses dalam pergaulan dan pertemuan jodoh.

Pada saat berbunyi gending Nyaring Iwak biasanya di jaringlah dua orang anak untuk diajak terlibat dalam penampilan gending berikutnya yang disebut dengan gending Paman Tani. Kedua orang anak tersebut diperintahkan untuk merangkap mirip sepasang sapi untuk meragakan gerak membajak di sawah.

Penutup.

Sebagai akhir pelaksanaan pementasan, bi­asanya dibunyikan gending erang-erang. Pada saat ini penari Sebiang menari dengan memainkan keris, bahkwan kadang-kadang mengejar penonton kalau ada diantar a mereka yang menggoda. Gerak tarinya menggambarkan gerak perang-perangan dan pada akhir tarian dipeganglah bendera merah putih seba­gai lambang kemenangan, pada saat ini biasanya waktu menunjukkan jam 24.00 WIB.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/01/10/seblangan-kabupaten-banyuwangi/
Comments
Loading...