budayajawa.id

Kesenian Sandhur, Kabupaten Nganjuk

0 22

Kesenian Sandhur, Kabupaten Nganjuk

Kesenian Sandhur yang kini sudah tidak begitu dikenal masyarakat luas, khususnya masyarakat Nganjuk, pernah memiliki masa lalu yang menggembirakan. Mengenai kapan dan dimana kesenian ini muncul pertama kali, tidak dapat ditentukan dengan pasti. namun yang jelas bahwa kesenian ini pernah ada dan berkembang pesat di daerah Ngluyu, Senggowar dan Gondang.

Ada yang berpendapat bahwa kesenian Sandhur berasal dari daerah Ngluyu dan sudah dikenal masyarakatnya sejak sekitar tahun 1900. Ada pula yang berpendapat, bahwa kesenian Sandhur berasal dari desa Senggowar, yaitu suatu desa yang terletak di sebelah utara desa Gondang Kulon. Berawal dari seringnya menonton kesenian ini di desa Senggowar ada beberapa pemuda Gondang Kulon berhasrat untuk membentuk kelompok kesenian yang sama di desa Gondang Kulon tempat mereka bermukim. Dalam perkembangannya kesenian ini di daerah asalnya sudah tidak berkembang lagi, dan sampai saat ini tinggal ada satu perkumpulan kesenian ini, yaitu di Desa Gondang Kulon, Kecamatan Gondang.

Kesenian ini inti ceriteranya menggambarkan pembukaan daerah baru (babat alas), yang menurut beberapa sumber menceriterakan babat alas Sumedang Kawit yang diciptakan oleh Ki Demang Mangunwijaya. Inti cerita ini jika dikaitkan dengan kemungkinan daerah kelahirannya, memang lahir di daerah kawasan hutan, sehingga alur ceriteranya tidak dapat dilepaskan dari upacara selamatan membuka hutan.

Pemain Sandhur berjumlah 6 orang, terdiri dari 4 orang pemain inti yang memainkan tokoh Petak, Belong, Cawik dan Tangsil. Yang 2 orang sebagai pemain Jaran Kepang Somba dan Dawuk.

Pengrawit yang mengiringi kesenian ini berjumlah 5 orang disesuaikan dengan jumlah alat musiknya yang hanya 2 macam, yaitu terdiri dari gendang dan alat musik dari bambu besar yang berfungsi sebagai gong (Gong Bumbung), sedangkan 3 orang yang lain berfungsi sebagai panjak ore (penggerong).

Dalam tata rias kesenian ini memiliki ciri yang khusus dan terkesan rias realistik, sebab rias disini hanya berfungsi untuk mempertebal garis wajah yang sudah ada agar tampak lebih tampan dan cantik. Busana yang dipakai para pemain tidak selengkap busana para pemain. Mung Dhe dan terkesan lebih sederhana.

Tata panggung kesenian Sandhur sangat sederhana sekali, sebab pada hakekatnya kesenian ini bisa dipentaskan dimana saja dan tidak memerlukan tempat khusus. Umumnya selalu dipentaskan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, lapangan ataupun tempat terbuka lainnya. Namun beberapa hal sebagai kelengkapan pementasan mutlak harus ada, seperti meja tempat sesaji dan tempat jaran kepang biasanya ditempatkan di tengah- tengah pentas. Untuk membatasi antara pemain dan penonton diberi pembatas berupa tali yang diikatkan pada pathok di pojok-pojok tempat pentas. Di tiap sudut pentas diberi kursi untuk tempat duduk para pemain.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/06/10/kesenian-sandhur-kabupaten-nganjuk/
Comments
Loading...