Kesenian Rebana Biang Khas Betawi

0 96

Kesenian Rebana Biang Khas Betawi

Ada banyak versi kisah terkait keberadaan awal rebana biang di Pulau Jawa. Ada kisah lisan yang mengungkapkan bahwa seseorang bernama Pak Kumis membawa rebana biang dari Banten pada tahun 1860. Ada juga cerita lain bahwa rebana biang sudah ada sebelum agama Islam datang ke tanah Jawa, terutama Jakarta.

Versi lain mengatakan, rebana biang dibawa oleh pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Agung ke tanah Betawi. Fungsi kesenian rebana biang yang mendapat pengaruh Islam saat itu sebagai hiburan saat penyambutan tamu sekaligus sarana untuk melakukan kegiatan keagamaan, yakni tarekat. Oleh karena itu, kesenian rebana biang sangat dipengaruhi akulturasi Melayu, Arab, dan Jawa. Pada masa keemasannya, pemain rebana biang sebagian besar adalah pedagang atau petani kecil.

Seperti umumnya seni pertunjukan tradisional yang mengalami pergeseran fungsi, rebana biang juga mengalami perubahan. Pertunjukan rebana biang saat ini untuk memeriahkan berbagai acara, seperti pernikahanulang tahun, serta khitanan.

Pertunjukan rebana biang masa kini banyak menambahkan alat musik, seperti terompet, tehyan, rebab, dan biola. Penambahan ini untuk menggantikan lagu-lagu bernapaskan zikir Islam.

Setiap grup pertunjukan rebana biang mempunyai banyak koleksi lagu yang berbeda. Kalaupun ada yang judul lagunya sama, gaya dan cara memainkannya justru akan berbeda. Banyak judul lagu yang bertema Islam hingga Melayu dimainkan dalam pertunjukan rebana biang, antara lain, Robunasalun, Allauah, Alpasah, Dulsayidina, Sangrai Kacang, serta Anak Ayam.

Ada dua lagu rebana biang yang didasarkan pada cepat atau lambatnya irama lagu. Jika dalam lagu Rabbuna Salun, Allahah, dan Hadro Zikir, rebana biang dimainkan dengan tempo yang cepat. Lagu rebana biang yang berciri khas dengan tempo cepat biasanya disebut lagu Arab atau lagu nyalun. Jika berirama lambat,  antara lain Alfasah, Yulaela, Dul Laila, Anak Ayam Turun Selosin, dan Sangrai Kacang, biasanya lagu rebana biang ini disebut  lagu rebana atau lagu Melayu.

Tidak hanya sebagai pertunjukan utama, tetapi rebana biang juga bisa menjadi pengiring kesenian Betawi lainnya. Ada tari belenggo dan teater belantek. Rebana biang sering menjadi pengiring dua kesenian tersebut. Cepat atau lambatnya irama dari rebana biang ini diperlukan untuk mengiringi tari belenggo.

Di beberapa tempat, kesenian rebana biang disebut rebana salun. Wilayah penyebaran rebana biang, yakni di daerah Jakarta dan sekitarnya, dari Ciganjur, Cijantung, Cakung, Ciseeng, Parung, Pondok Rajeg, Bojong Gede, Kalibata, Tebet, Condet, Rambutan, Kalisari, Ciganjur, Bintaro, Cakung, hingga Bojong Gede.

Source https://id.wikipedia.org https://id.wikipedia.org/wiki/Rebana_biang
Comments
Loading...