Kesenian Puthut Edan Sida Lamong Di Mlati

0 5

Kesenian Puthut Edan Sida Lamong Di Mlati

Dalam rangka memeriahkan HUT RI Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, secara khusus menyelenggarakan aneka acara, dengan puncak acara pementasan kesenian wayang wong (orang) dengan lakon “Puthut Edan Sida Lamong”. Sebelumnya telah dilakukan pula aneka kegiatan seperti bersih dusun, desa, dan kecamatan, musabaqah tilawatil Quran, bimbingan manasik haji untuk anak-anak usia dini dan upacara bendera.

Pementasan wayang wong sebagai puncak acara di Kecamatan Mlati dilakukan atas kerja sama Kecamatan Mlati, Sanggar Seni Gita Gilang, dan Paguyuban Tresna Budaya Manunggal pimpinan Yati Pesek. Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, HY Aji Wulantara SH menyatakan bahwa event ini difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan Komunitas Lemah Teles dan beberapa stakeholder kebudayaan yang lain. Pementasa itu dilaksanakan pada Jumat malam, 31 Agustus 2018 di Pendapa Kecamatan Mlati.

Pementasan diawali dengan Tarian Sang Pangeran dan disusul dengan Tarian Bokong Kalegan. Kedua jenis tari ini merupakan karya atau kreasi dari Sanggar Gita Gilang. Selain dibintagi oleh Yati Pesek, Dalijo Angkring, Aldo Iwak Kebo, pementasan ini disutradarai oleh M Pardiman dan penata Joko Suseno. Untuk memeriahkan pementasan ini Camat Kecamatan Mlati, Drs Suyudi MM dan Danramil Mlati, Mayor Inf Sukamto juga ikut berpentas.

Lakon Puthut Edan Sidolamong pada intinya menceritakan tentang perginya Arjuna beserta beberapa putra Pandawa tanpa pamit. Kepergian Arjuna tanpa alasan atau kabar yang jelas ini menjadikan Sumbadra merana. Kepergian suaminya yang cukup lama menjadikan Raden Burisrawa berkehendak untuk menyuntingnya. Semua warga Kurawa menyetujui keinginan Burisrawa. Oleh karena itu Burisrawa beserta Kurawa dan didampili Prabu Baladewa menuju ke Kerajaan Dwarawati untuk meminang Sumbadra yang berada di kerajaan itu (kerajaan kakaknya).

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Raden Setyaki, Raden Setyoko, dan Raden Samba Wisnubrata. Maksud rombongan Kurawa ini ditentang oleh Setyaki, dan kawan-kawannya. Oleh karena itu terjadilah peperangan di antara mereka. Kurawa kalah, namun Baladewa membantu sehingga Setyaki dan kawan-kawannya dapat dikalahkan. Rombongan Kurawa menghadap Kresna dan mengutarakan maksudnya. Kresna mengizinkan Burisrawa menyunting Sumbadra namun dengan syarat harus menunggu 40 hari 40 malam. Jika dalam waktu itu Arjuna belum juga menampakkan batang hidungnya, ia boleh menyunting Sumbadra.

Pada sisi lain Puthut Edan Sidalamong mencari pemuda tampan bernama Raden Pijetmoko karena adiknya yang bernama Dewi Marioneng jatuh cinta padanya melalui mimpi. Raden Pijetmoko yang ditemukan Puthut Edan Sidolamong semula menolak dan mereka berperang, namun Pijetmoko kalah. Setelah dipertemukan ternyata Pijetmoko juga jatuh hati pada Marioneng.

Di Kraton Dwarawati tiba-tiba muncul Dewi Sugatawati yang menyerahkan hantaran untuk calon pengantin putri (Sumbadra) begitu dibuka oleh Sumbadra, Sumbrada pingsan. Baladewa marah pada Sugatawati. Sugatawati dibunuh. Sugatawati dibela Pijetmoko. Pijemoko juga dibunuh. Puthut Edan Sidolamong marah karena adik iparnya dibunuh Baladewa. Ia lapor pada Begawan Edan Sidolancang (orang tua Pijetmoko). Edan Sidolancang marah dan berperang dengan Baladewa.

Akhir cerita, Edan Sidolamong berubah menjadi Gatotkaca, Edan Silancang berubah menjadi Arjuna. Pijetmoko berubah menjadi Abimanyu. Pada sisi ini semua terurai dan berdamai. Burisrawa gagal menyunting Sumbadra. Dalam kisah wayang Burisrawa tidak pernah menikah hingga akhir hidupnya.

Source https://www.tembi.net https://www.tembi.net/2018/09/06/kecamatan-mlati-pentaskan-puthut-edan-sidolamong/
Comments
Loading...