Kesenian Panjidor Yogyakarta

0 159

Kesenian Panjidor

Salah satu kesenian khas dari daerah Jambon, Donomulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, DIY ini, dikenal dengan nama Panjidor atau Panjidur. Kesenian komunal yang memadukan musik dan tari. Kesenian ini ditarikan oleh para penari laki-laki berkostum laiknya prajurit atau tentara militer sehingga terlihat unik dan khas.

Dengan diiringi rampak tetabuhan musik hadrah yang bernuansa Islami. Alunannya terdengar lirih, namun terkadang juga bisa cepat dan keras beriringan mengikuti tabuhan rebana bersama jidor, dan stambul yang saling berganti. Diantara vokal, mirip paduan suara dari para pemusik yang bersarung dan berpeci yang juga terdiri para lelaki.

Diantara belasan prajurit-penari yang berseragam militer ini. Ada dua tokoh utama dalam kesenian ini, mereka adalah Umarmaya dan Umarmadi. Kedua tokoh yang diambil dari Babad Menak itu menjadi lakon atau aktor utamanya. Yang membedakan, ujud sosok Umarmadi selalu ditampilkan sebagai tokoh lelaki berperut buncit yang selalu tampil jenaka.

Kedua lakon ini, memainkan peran utama dalam kesenian Panjidor. Umarmaya adalah raja, sedang Umarmadi adalah Mahapatih Raja Menak. Hikayat kesenian Panjidor sebenarnya mengadopsi Kitab atau Babad Menak berasal dari Persia, menceritakan Wong Agung Jayeng Rana atau Amir Ambyah (Amir Hamzah), paman Nabi Muhammad SAW.

Cerita utamanya adalah permusuhan antara Wong Agung Jayeng Rana yang beragama Islam dengan Prabu Nursewan yang belum memeluk agama Islam. Sehingga cerita yang melatarbelakangi banyak berasal dari kisah kepahlawan atau heroisme, penaklukan perang oleh pasukan paserbumi sebagai prajurit perang dalam kesenian Panjidor.

Kesenian Panjidor, konon sudah berkembang pada pasca kemerdekaan, sekitar 1948 di wilayah ini. Tokohnya adalah Sastrodiwiryo, pendiri Kelompok Seni Langen Kridhatama, yang kini berjumlah 60-an orang. Sastrodiwirto yang kemudian mulai mengembangkan gerakan tarian yang terilhami kisah dalam Babad Menak.

Kini, Kelompok Seni Langen Kridhatama sudah memiliki beberapa generasi penerus. Kendati memang secara idiom gerak, syair lagu dan musiknya tak banyak mengalami perubahan berarti, hanya menyesuaikan karakter penarinya. Selebihnya mengikuti pesanan jika ada yang menanggap kelompok yang biasa latihan setiap malam minggu wage ini.

Kesenian Panjidor biasanya hanya tampil di malam hari. Panjidor bisa pentas semalam suntuk dalam sebuah lakon dengan jalinan cerita yang utuh. Untuk keperluan ini, mereka kerap menghadirkan beberapa penari perempuan sebagai daya tariknya. Untuk sekali tampil komplit, kelompok ini biasa mematok harga sekitar 5-6 juta rupiah.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Kesenian-Panjidor/
Comments
Loading...