Kesenian Menak Sorangan

0 48

Menak Sorangan adalah sebuah kesenian tari menak gaya Yogyakarta yang merupakan bagian dari serat menak Yasadipura I, didalamnya menceritakan tentang Raja dengan nama Prabu Gijimandalika Ustur yang mempunyai sifat yang sangat jahat sekali seperti binatang. Prabu Gijimandalika Ustur berwajah seekor binatang gajah yang sangat sakti mandraguna, disegani dan sangat tersohor. Dikisahkan Sri Bathara Rustamaji putra dari Wong Agung Jayengrana sangat ingin mengadu kesaktian dengan Prabu Gijimandalika Ustur, yang malah membuat nyawanya melayang. Diawali dengan kematian Sri Bathara Rustamaji inilah akhirnya  Prabu Gijimandalika Ustur bertemu dengan Wong Agung Jayengrana. Bala pati prajurit yang dibawa para wadya Kuparman inilah akhirnya dapat menghancurkan kekuasaan Prabu Gijimandalika Ustur beserta kerajaannya dan Prabu Gijimandalika Ustur mati di tangan Wong Agung Jayengrana.

SAB (Siswa Among Beksa) resmi berdiri pada tanggal 13 Mei 1952 atas prakarsa BRM Hening (GBPH Yudanegara) yang sekaligus menjadi ketua pertama paguyuban ini, sebagai organisasi yang berdasar pada Pancasila dan UUD 1945 serta berazaskan kekeluargaan dan gotong royong maka SAB dalam kehadirannya telah turut menempatkannya dalam sebuah prespektif pengembangan tari jawa gaya Yogyakarta. SAB berpandangan bahwa usaha pengembangan tari gaya Yogyakarta dalam makna penyebarluasan kepada masyarakat, haruslah didasari dengan suatu pemahaman terhadap sikap budaya yang lebih terbuka dan tidak memandang suatu kelompok sebagai pemegang dominasi cultural heritage.

  

Pagelaran Wayang Menak 2018 diadakan oleh Dinas kebudayaan Daerah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan selama 3 hari mulai tanggal 6 sampai 8 Mei 2018. Pagelaran ini diikuti oleh 6 Sanggar Tari klasik Gaya Yogyakarta yang sudah melegenda di Yogyakarta, antara lain Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, Yayasan Siswa Among Beksa, Perkumpulan Tari Kridha Beksa Wirama, Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa, Paguyuban Kesenian Suryo Kencono dan Irama Tjitra. Beksan menak merupakan salah satu tari menak klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini dan beliau terjun secara langsung dalam penciptaan tarian menak ini.

Gerak dalam Menak Sorangan ini pda umumnya masih belum ada pembakuan selama di buat oleh HB IX pada tahun 1941 sampai sekarang. Tapi pada prinsipnya gerak tarian menak cenderung pada gerak yang kaku tapi masih ada luwesnya, tidak hanya kaku seperti kayu. Makanya ada istilah Ha Njoged Menak bukan menak yang Njoged artinya tarian masih banyu mili yang mana kita ini Njoged Menak bukan kayu yang Njoged. Walaupun ragam geraknya hampir sama dengan wayang wong, tapi kesemuanya geraknya tiap sanggar yang pada tampilan pagelaran ini satu sama lain pasti berbeda. Artinya semua bisa di kreasi dan diolah dengan kreatifnya oleh creator tari tersebut. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh HB IX, semua dibuat untuk di buat lebih kreatif.

Busana pada Menak Sorangan ini, mengarah pada busana yang dikenakan pada wayang golek kayu. Secara umum yang dipakai adalah songkok pada bagian kepala, sumpingnya memakai rom, baik putra maupun putrid, ini kalau diwayang wong biasanya digunakan untuk peran putra-putri dengan karakter klono alus, puthut yang bentuknya seperti sorban dikepala serta memakai baju lengan panjang baik putra maupun putrinya. Sedangkan busana pelengkap lainnya menggunakan celana cindhe, kain panjang rampakan, kampuhan, cincingan atau seredan, sondher (selendang) cindhe dan asesoris jamang (hiasan kepala), sumping, klat bahu (gelang tangan) dan kalung susun tiga. Sedangkan riasannya memakai riasan karakter.

Gendhingnya mempunyai ciri khas tersendiri yang jarang dipakai pada gendhing wayang wong, intinya karena tidak ada pakem yang harus digunakan pada gendhingnya, maka hanya disesuaikan dengan tokoh/lakon yang ditampilkan. Seperti gendhing hoyag-hoyag, gendhing semu. Dibuat sesuai dengan kreasi penata musiknya. Sebuah pagelaran dengan latar belakang napas Islam yang dipertontonkan kepada masyarakat dengan harapan agar masyarakat lebih mengetahui tentang makna tarian menak yang sesungguhnya. Karena tari menak ini masih belum begitu umum diketahui oleh masyarakat, yang ragam ceritanya sangat banyak sekali. Pagelaran ini sangat variatip sekali karena yang ditampilkan sanggar-sanggar ini satu sama lain baik dalam ragam gerak, busana, dan gendhing, sangat berbeda . Sebuah keragaman budaya yang di miliki oleh Indonesia yang dapat digunakan sebagai daya tarik Pariwisata.

Source https://myimage.id https://myimage.id/menak-sorangan/
Comments
Loading...