Kesenian Lerok, Kabupaten Nganjuk

0 55

Kesenian Lerok, Kabupaten Nganjuk

Dinamakan kesenian Lerok karena tata rias wajah para pemain memakai bedak warna putih, dan tebal termasuk pengrawitnya. Rias semacam itu oleh orang jawa disebut Lera Lero, atau Lerok-Lerok. Seni Tradisional Lerok hanya dipentaskan pada malam hari saat purnama tiba. Mulai jam 21.00, dan baru berakhir menjelang 03.00 pagi. Bentuknya teater tradisional, dibawakan secara interaktif. Artinya, penonton terkadang bisa juga masuk sebagai pemain. Sebagai bentuk kekhasan kesenian ini, yaitu tampilnya para penjaja makanan kacang rebus atau goreng. Tempat rias cukup dibawah pohon asam, dengan penerangan ala kadarnya berupa obo

Seni Tradisional Lerok ketika itu hanya dipentaskan pada malam hari saat purnama tiba. Mulai jam 21.00, dan baru berakhir menjelang 03.00 pagi. Bentuknya teater tradisional, dibawakan secara interaktif. Artinya, penonton terkadang bisa juga masuk sebagai pemain. Sebagai bentuk kekhasan kesenian ini, yaitu tampilnya para penjaja makanan kacang rebus atau goreng. Tempat rias cukup dibawah pohon asam, dengan penerangan ala kadarnya berupa obor.

Gemelannya terdiri dari demung, saron, kendang, kempul dan gong janggrung atau gong bumbung. Yaitu gong yang terbuat dari bambu petung. Untuk membunyikannya tidak dipukul seperti layaknya gong dari logam, melainkan ditiup. Upah yang didapat, hanya dari keikhlasan penonton, selain berupa uang juga ada yang berupa padi. Biasanya, ditengah pentas berjalan, ada salah satu pemain yang keliling menghampiri setiap penonton dengan membawa Kalo. Yaitu sejenis alat memasak terbuat dari anyaman bambu, yang disusun tidak terlalu rapat, karena biasanya alat ini digunakan untuk saringan santan kelapa.

Cerita yang diangkat Cerita Legenda Kerajaan Kediri. Misalnya, cerita Andhe-Andhe Lumut, Keong Mas. Seniman juga bisa memasukan pesan perjuangan dengan tersamar. Maklum, ketika kesenian ini muncul di masyarakat, masih jaman penjajahan.

Pada akhir cerita, seperti saat mementaskan Cerita Roro Kuning di Surabaya beberapa waktu lalu, Wiyono menandai dengan sebuah adegan. Yaitu saat pemain masih meragakan peran, tiba-tiba penonton satu-persatu meninggalkan tempat. Bersamaan itu pula obor berlahan-lahan padam.

Karuan saja, para pemain lerok kocar kacir, lari tunggang langgang, melangkah tanpa asa.” Ending ini memang sengaja kami buat, sebagai bentuk rasa keprihatinan akan kepunahan kesenian ini. Seni yang kian tersingkir ini, semoga hanya mati suri, sehingga kelak bisa hidup kembali, memperkaya khasanah seni tradisional di Bumi Anjuk Ladang” harap Wiyono. Keprihatinan tersebut memang sangat beralasan.

Sebab realitas dimasyarakat sekarang ini, bahkan bagi warga Kabupaten Nganjuk sendiri, nama kesenian lerok masih sangat asing. Sedikit sekali yang mengenalnya. Karenanya semua pihak, terutama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah merasa perlu mengadakan kajian yang lebih dalam dan bisa dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya. Kalau tidak, seni lerok ini bisa dilirik dan dimiliki orang lain, dan kita hanya bangga sebagai penonton.

Source http://bpad.jogjaprov.go.id/ http://bpad.jogjaprov.go.id/coe/article/kesenian-lerok-kabupaten-nganjuk-539
Comments
Loading...