Kesenian Lenong, Budaya Betawi yang Masih Tetap Eksis

0 123

Lenong adalah teater tradisional Betawi yang disertai dengan alat musik seperti gambang, kromong, gong, drum, kempor, seruling, dan kecrekan, serta unsur alat musik Cina seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Skenario Lenong pada umumnya mengandung pesan moral, yang membantu keserakahan, lemah dibenci dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau sekarang bahasa Indonesia) dialek Betawi.

Sejarah Lenong
Lenong berkembang sejak akhir abad 19 atau awal abad 20. Seni teater mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi, seni yang sama seperti “komedi bangsawan” dan “teater opera” yang sudah ada pada saat itu. Revolusi dari proses teater lenong musik Gambang Kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak 1920-an.
Para pemain Lenong berevolusi dari lelucon-lelucon tanpa plot-tali digantung pada sebuah pertunjukan dengan bermain sepanjang malam dan utuh. Pada seni pertama dipamerkan dengan menyanyikan dari desa ke desa. Acara ini diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Sebagai acara berlangsung, salah satu aktor atau aktris di sekitar penonton sementara meminta sumbangan secara sukarela. Selanjutnya, mulai Lenong dilakukan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru pada awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi spectac panggung. Setelah mengalami masa sulit, dalam seni lenong yang dimodifikasi tahun 1970-an mulai rutin dilakukan di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggunakan unsur teater modern dalam tahap plot dan tata letak, Lenong dipersingkat waktunya ke dalam dua atau tiga jam dan tidak lagi sepanjang malam.
Selanjutnya, lenong juga menjadi populer lewat pertunjukan di televisi, yang ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia dimulai pada 1970-an. Beberapa seniman lenong yang menjadi terkenal sejak saat itu misalnya adalah Bokir, Nasir, Siti, dan aneh.
Pementasan Lenong

Terdapat beberapa hal yang membedakan Lenong dengan kesenian teater lainnnya, baik sebelum cerita mulai dimainkan maupun pada saat babak-babak cerita mulai dimainkan. Sebelum memasuki inti dari sandiwara Lenong, terdapat beberapa prosesi khusus yang dilakukan. Prosesi pertama yang dilakukan disebut sebagai ungkup. Di dalam ungkup ini biasanya berisi pembawaan doa.

Selanjutnya, pada prosesi kedua dilakukan sepik, yakni penyambutan berupa penjelasan cerita yang pada nantinya akan dimainkan. Setelah prosesi sepik selesai, baru kemudian memasuki prosesi akhir yang berfungsi untuk pengenalan masing-masing para pemain, sebelum memasuki inti cerita dari sandiwara Lenong yang kemudian benar-benar dimainkan.

Inti sandiwara cerita yang dipentaskan di panggung ini dimainkan secara babak demi babak. Selama berjalannya cerita, seringkali terselip sebuah pantun serta banyolan-banyolan (lelucon) yang menjadi ciri khas Lenong. Bahkan pantun dan banyolan tersebut menjadi sebuah ciri khas yang unik bagi kesenian Lenong. Selain itu, salah satu yang menjadi ciri khas Lenong adalah kebebasan untuk melakukan improvisasi di dalam dialog selama masih dalam benang merah cerita yang dimainkan karena di dalam Lenong memang sengaja tidak diciptakan naskah baku bagi pemainnya. Akibat tidak ada naskah baku, terkadang pementasan Lenong di masa lalu bisa berlangsung semalaman hingga subuh.

Source Kesenian Lenong, Budaya Betawi yang Masih Tetap Eksis Kesenian Lenong, Budaya Betawi yang Masih Tetap Eksis Kesenian Lenong, Budaya Betawi yang Masih Tetap Eksis

Leave A Reply

Your email address will not be published.