budayajawa.id

Kesenian Kethoprak Siswo Budoyo Kabupaten Pati

0 114

Kesenian Kethoprak adalah kesenian tradisional asli Jawa khusunya Jawa Tengah dan DIY yang diyakini sebagai cikal-bakal seni pentas, drama, film dan juga sinetron. Selain menonjolkan unsur cerita rakyat atau babad di dalam kesenian kethoprak ini mengemas berbagai macam seni dalam satu pertunjukan yang memikat. Sebagai misal jika kita menyaksikan pertunjukan kethoprak didalamya pasti ada unsur seni suara, seni tari, seni musik dan juga seni peran itu sendiri. Oleh karena itu kesenian kethoprak ini bisa dikatakan sebagai kolaborasi berbagai seni yang dipadukan sehingga menghasilkan pertunjukan yang memikat dan juga menghibur.

Asal-usul Kesenian Kethoprak 

Awal mula ketoprak merupakan hiburan rakyat yang diciptakan oleh masyarakat di luar kerajaan. Mereka menyiapkan panggung dan berlagak menjadi raja, pejuang, pangeran, putri, dan siapa pun yang mereka inginkan. Pada perkembangannya, hiburan ketoprak juga diminati oleh anggota kerajaan, dan di setiap penampilannya selalu ada pelawak yang membuat ketoprak terasa semakin hidup.

Pada awal abad 19 ketoprak dipentaskan di pendapa Wreksodiningrat, seorang bangsawan Kraton Solo. Saat itu, pentas ketoprak menggunakan cerita sederhana dan iringan instrumen gamelan. Tahun 1924, muncul kelompok ketoprak kelilingan Langen Budi Wanodya, pentas di daerah Demangan Yogya. Karena mudah ditirukan, bermunculan grup ketoprak. Hampir setiap kampung memiliki grup ketoprak.

Tahun 1925, format Ketoprak berubah bukan hanya alat musik yang menggunakan biola, beberapa instrumen dan rebana, tapi juga cerita berkembang tak hanya ungkapan syukur petani namun merambah problem sosial masyarakat. Tahun 1925-1926 ini disepakati sebagai periode ketoprak peralihan. Iringan musik menggunakan seperangkat gamelan dan cerita berkembang bersumber pada sejarah masa lampau, tata kostum dan tata pentas mulai mengalami kemajuan.

Tahun 1940-an ketoprak sangat dikenal masyarakat dampak disiarkan radio (RRI Yogya) yang semula bernama MAVRO. Tahun 1950-1960 ketoprak berkembang menjadi primadona pertunjukan masyarakat. Namun tahun 1966-1969, ketoprak mati akibat pergolakan politik di Indonesia. Mulai tahun 1970-an, ketoprak dibangkitkan lagi oleh pemerintah Orde Baru lewat institusi militer Kodim, Korem dan Kodam.

Tahun 1990 muncul ketoprak plesetan (humor) di Yogya. Dengan menggunakan pola baru membuat ketoprak kembali berubah, karena banyak mengadopsi idiom-idiom teater modern yang diolah dan dikemas dalam sebuah pentas ketoprak. Maka muncul istilah ketoprak garapan yang menawarkan konsep baru.

Dalam penyajian atau pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa. Ceritanya diambil dari mana saja, baik dari sejarah tanah Jawa hingga cerita-cerita fantasi. Penampilannya juga selalu disertai tembang-tembang Jawa yang disisipkan di beberapa bagian cerita, sehingga dapat juga dibilang ketoprak di satu pihak mirip dengan operet.

Kostum dan dandanannya menyesuaikan dengan adegan atau lakon. Pada awalnya, ketoprak menggunakan iringan suara lesung dan alu yang biasa digunakan sebagai alat penumbuk padi. Alat-alat ini menimbulkan suara: prak, prak, prak, yang merupakan asal dari kata ketoprak. Namun saat ini jalan cerita ketoprak diiringi oleh irama gamelan dan keprak yang tak henti. Dan ini sangat menarik dinikmati, terutama apabila memang pertunjukan ketoprak yang disuguhkan mengangkat cerita humor yang dapat mengundang tawa.

Kethoprak Siswo Budoyo Kabupaten Pati

Salah satu daerah di Jawa Tengah yang dikenal sebagai gudangnya kesenian kethoprak adalah kabupaten Pati. Saat ini menurut catatan yang ada di sana masih ada 10 lebih grup atau rombongan kethoprak yang setiap waktu menerima permintaan tanggapan bagi warga masyarakat yang membutuhkan. Salah satu grup kethoprak papan atas yang saat ini masih setia menemui penggemarnya adalah “ Siswo Budoyo “ dari desa Growong Lor kecamatan Juana kabupaten Pati. Kethoprak dengan pimpinan Anom ada sejak tahun 1989 dan dengan berjalannya waktu kethoprak ini terus menghibur masyarakat dan juga melestarikan tradisi Jawa di berbagai tempat.

Sudah lebih dari 20 tahun lebih kesenian Kethropak Siswa Budaya menemui penggemarnya diberbagai tempat. Tidak hanya di Jawa Tengah saja, Kethoprak Siswa Budaya juga sering manggung di daerah Jawa Timur dan Jakarta. Ketika ditanya tentang cerita yang dipentaskan grup kethoprak Siswa Budaya, Darno yang juga berperan sebagai pemain mengatakan, ada 150 cerita yang dapat dipilih menurut selera. Lakon atau cerita itu biasanya berwujud babad atau cerita rakyat yang disusun berdasarkan buku-buku yang ada. Selain itu pula lakon bisa didapat dari mulut ke mulut dari orang-orang tua dulu yang kemudian disusun menjadi cerita baru yang kemudian dipentaskan dalam panggung. Namun agar pentas tidak membosankan cerita itu dikemas sedemikian menarik dengan bumbu-bumbu yang memikat penonton. Misalnya dengan menambah tari-tarian, lawak, dan juga lagu-lagu kini seperti ndangdhut dan campur sari. Selain itu di setiap penampilan teknik penataan panggung atau property setiap waktu juga diganti agar tidak membosankan, seperti penataan lampu, suara dan juga penampilan pemain.

Meskipun kesenian tradisional, namun kethoprak “ Siswo Budoyo “ saat ini mampu memikat para penontonnya dengan mengkolaborasikan seni modern di dalamnya, misalnya untuk musiknya selain gamelan juga ada organ, drum dan yang lainnya. Cerita yang ditampilkan juga mampu memikat penonton dari berbagai kalangan baik tua maupun muda, misalnya dengan menyajikan adegan romantic yang menggemaskan, adegan perang dengan unsur akrobatik yang mencengangkan dan tidak ketinggalan lawakan-lawakan yang lucu dan menggelikan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika ada pentas kethoprak “Siswo Budoyo” ini penonton yang melihatnya selalu berjubel dari berbagai kalangan.

Seperti halnya pentasnya di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak, pasar ikan yang menjadi arena pentas kethoprak dipenuhi oleh ratusan penonton dari desa-desa seputaran Kedungmutih. Dengan banyaknya penonton tersebut membuat kegembiraan tersendiri Kepala Desa Kedungmutih Hamdan yang memang menyukai kesenian wayang dan ketoprak ini. Sehingga setiap tahun dalam masa kepemimpinannya dalam acara sedekah bumi dan laut pasti menggelar dua kesenian secara bergantian, khusus tahun ini dua pentas sekaligus yaitu wayang dan kethoprak.

Source Kesenian Kethoprak Siswa Budaya Kabupaten Pati Kesenian Kethoprak Siswa Budaya Kabupaten Pati
Comments
Loading...