Kesenian Keket, Tradisi Lokal Situbondo

0 196

Arti kata KEKET dalam bahasa Madura merupakan suatu bentuk perkelahian dengan menggunakan kekuatan tubuh untuk menjatuhkan lawan, yaitu dengan melingkarkan lengan ke bagian tubuh lawan, dan berusaha menekan sampai lawan jatuh, tradisi kesenian Keket ini dilakukan sebagai wujud syukur karena hasil panen masyarakat setempat berlimpah.

Arti Keket dalam pemahaman keseharian warga Situbondo merupakan suatu bentuk perkelahian dengan menggunakan kekuatan tubuh untuk menjatuhkan lawan, yaitu dengan melingkarkan lengan ke bagian tubuh lawan dan berusaha menekan sampai lawan jatuh. Sedangkan tradisi kesenian Keket ini dilakukan sebagai wujud syukur karena hasil panen masyarakat setempat berlimpah.

Kesenian tradisional Keket yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kesenian silat/tarung ala Madura sudah ratusan tahun dikenal sebagai kesenian asli asal Kabupaten Situbondo.

Tradisi atau kesenian perkelahian bagi warga Kabupaten Situbondo ada dua macam. Yang pertama, tradisi perkelahian (gelut) yang kemudian dikenal sebagai kesenian Keket. Kesenian atau tradisi Keket ini ditampilkan di tempat terbuka seperti di lapangan atau ladang dan diselenggarakan sebagai ritual menyambut musim kemarau. Kesenian tradisonal yang kedua, bernama kesenian Ojhung atau biasa dinamakan tarung antara dua pria perkasa dengan memakai seutas rotan. Itu yang membedakan antara Keket dengan Ojhung, terletak pada alat tarungnya.

Keket dalam pertarungannya seperti halnya tradisi sumo di Jepang, yaitu dalam bentuk perkelahian  satu dengan yang lain dengan berusaha merobohkan lawan. Bila pelaku sumo dibutuhkan postur tubuh besar, kuat dan gemuk, sedang Keket berlaku bebas bagi siapa saja untuk bertarung. “Asalkan saja petarung punya kekuatan untuk menjatuhkan lawan boleh ikut ajang Keket ini.”

Permainan Keket ini diawali dengan penampilan beberapa tokoh yang kemudian akan menjadi wasit atau juri dalam pertarungan. Para tokoh atau juri ini, kemudian terjun ke arena atau lapangan lalu menari-nari dengan iringan musik tradisional. Dan para tokoh atau juri itu, bukan semata-mata sekadar pembuka acara Keket, tetapi cenderung sebagai pawang dengan tampilan tari ritual. Itu tujuannya untuk mengamankan dan menjaga hal-hal yang tak diinginkan saat pertarungan Keket berlangsung.

Menjelang memasuki arena pertarungan, pinggang petarung pelaku Keket diikat dengan sarung. Dan fungsi sarung tersebut selain sebagai ciri dari tradisi kesenian Keket, juga untuk melerai, bila terjadi pergumulan yang mengikat. Sedangkan wasit tinggal menarik ikat sarung tersebut, selanjutnya dilakukan Keket kembali. “Pertarungan Keket akan berakhir bila salah satu lawan jatuh dan tidak mampu lagi untuk bertarung kembali.

Source http://harianbhirawa.com http://harianbhirawa.com/2016/12/menghidupkan-kembali-pagelaran-kesenian-keket-yang-nyaris-hilang/
Comments
Loading...