Kesenian Jayengrana Winiwaha Krida Beksa Wirama

0 33

Jayengrana Winiwaha

Jayengrana Winiwaha adalah sebuah tari wayang menak gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang Jayengrana Winiwaha yang merupakan cuplikan dari cerita menak Selara yang juga disebut dengan Menak Srandil. Dikisahkan pada saat Prabu Nursewan raja dari negeri Medayin ingin menaklukan Prabu Lamdahur dari negeri Srandil dengan mengutus Wong Agung Jayengrana. Apabila Wong Agung Jayengrana dapat mengalahkan Prabu Lamdahur, maka akan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Dewi Muninggar. Namun keinginan tersebut ditentang oleh Prabu Kitaham, yang menyebabkan Prabu Kistaham diusir dari negera Medayin dan bergabung dengan negeri Srandil. Peperanganpun terjadi yang berakhir dengan kekalahan Prabu Lamdahur. Atas kemenangan tersebut Prabu Nursewan menepati janjinya dengan menikahkan putrinya Dewi Muninggar dengan Wong Agung Jayengrana.

  

Krida Beksa Wirama yang merupakan salah satu sanggar tari klasik gaya Yogyakarta yang pertama kali keluar dari tembok Kraton Yogyakarta. Sanggar ini didirikan oleh Gusti Pangeran Haryo Tejokusumo dengan Bendoro Pangeran Haryo Suryodiningrat. Beliau-beliau ini adalah putra dari Hamengku Buwono VII. Sanggar ini dulunya di Ndhalem Tejokusuman. Sekarang ini sanggar ini mempunyai di 3 tempat untuk berlatih, antara lain di Ndhalem Tejokusuman, Tirtodipuro dan Pendopo Ambarukmo. Pada tahun ini sanggar ini sudah seabad umurnya karena dulu berdirinya pada tanggal 17 Agustus 1918. Alamat Sanggar Krido Bekso Wirama di jalan S Parman no 16, tepat dibelakang Ndhalem Tejokusuman.

Pagelaran Wayang Menak 2018 diadakan oleh Dinas kebudayaan Daerah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan selama 3 hari mulai tanggal 6 sampai 8 Mei 2018. Pagelaran ini diikuti oleh 6 Sanggar Tari klasik Gaya Yogyakarta yang sudah melegenda di Yogyakarta, antara lain Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, Yayasan Siswa Among Beksa, Perkumpulan Tari Krida Beksa Wirama, Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa, Paguyuban Kesenian Suryo Kencono dan Irama Tjitra. Beksan menak merupakan salah satu tari menak klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini dan beliau terjun secara langsung dalam penciptaan tarian menak ini.

Gerak pada tari menak Jayengrono Winiwaha pada dasarnya diambil dari gerak wayang golek menak kayu yang diadaptasi kedalam bingkai beksan wayang menak yang ceritanya diambil dari Negara Timur Tengah/Persia. Salah satu yang menjadi ciri khas gerak wayang menak ini adalah gerak yang diawali dengan cara unjal ambegan dan secara umum teknik geraknya tiap sanggar mempunyai teknik sendiri-sendiri dan sementara ini belum apa pakemnya sehingga bisa dibuat sekreatif mungkin. Pada penampilan tahun 1989, sebetulnya Sultan Hamengku Buwono IX ingin menyampaikan tari wayang menak ini sama seperti wayan orang. Tapi sampai sekarang pakemnya memang belum ada, sehingga para sanggar yang menampilkan wayang menak ini bisa mengekspresikan sekreatif mungkin, yang dapat menambah dengan gerak silat minang, kendangan sunda, yang mana sebelum wayang menak ini mencapai puncaknya beliau HB IX keburu meninggal, sehingga legalitas bentuk ragam geraknya masih bisa berkembang sampai sekarang.

Busana pada tari Jayengrana Winiwaha ini juga penuh tafsiran. Pada tahun 1991 wayang golek menak ini di pentaskan di USA yang busananya berorientasi pada wayang golek kayu yang diinterpretasikan pada penari wayang menak golek. Dan riasannya menggunakan riasan karakter, dimana pada wayang menak ini diadaptasi dari wayang orang yang pada dasarnya riasannya disesuaikan dengan lakon yang mau ditampilkan. Hal inipun masih dalam proses pengembangan. Sedangkan gendhing yang mengiringi wayang menak Jayengrana Winiwaha ini polanya lebih sederhana artinya bilahan atau balungannya tidak sebanyak seperti di dalam sendra tari. Upaya pelestarian dan pengembangan serta pembinaan seni tradisi sebagai sebuah tontonan yang sarat dengan tuntunan serta sebagai ruang ekspresi sanggar-sanggar klasik  yang ada di Yogyakarta serta di bidang pariwisata, dapat dijadikan daya tarik untuk mendatangkan wisatawan asing maupun local untuk lebih senang datang ke Yogyakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/jayengrana-winiwaha/
Comments
Loading...