Kesenian Jawa : Wayang Wong K-Pop (Komersial-Populer)

0 16

Wayang wong sebagai seni komersial-populer (k-pop), terutama pada bagian yang membeberkan keadaan para pelakunya, yang sekuat tenaga berusaha menyambung hidup dari menekuni seni wayang wong, merupakan pelajaran berharga bagi generasi sekarang, mengenai pahit getirnya menjalani kehidupan. Ada sebutan atau istilah dari mereka yang menggambarkan keadaan susah yang dialami. Menurut seorang pemeran raksasa,

Seperti buto (raksasa) yang kekurangan darah

atau yang lainnya,

Kami agak sedikit ringan, dan bisa bernapas lagi

Membayangkan hal itu, bisa menimbulkan perasaan (emosi) yang campur aduk. Perkumpulan wayang wong Wirama Budaya, Yogyakarta (1983), terpaksa tidak manggung, setelah sambungan listrik diputus, karena cukup lama menunggak tagihan pembayaran. Sebelum listrik diputus, mereka dapat tambahan lumayan sebulan dari penjualan karcis. Tempat pertunjukan mereka dalam kegelapan, padahal mereka hanya membutuhkan 700 watt. Selain bergelap-gelapan, tempat itu pun berbau pesing.

Papan panggung sudah lapuk, kain layar lusuh dan robek-robek, sejumlah kursi (rusak) tergeletak di sudut. Hanya lampu neon 20 watt sebagai penerang yang ada, seakan-akan menegaskan suramnya keadaan di sana. Para anggota Wirama Budaya juga nyambi (punya pekerjaan lain) sebagai buruh bangunan, kernet bus, tukang becak, dan tukang loak. Di Surakarta, kelompok wayang wong Sriwedari, punya gedung pertunjukan yang sudah diperbaiki. Jumlah pengunjungnya tidak pernah penuh, sekalipun puncak kunjungan pada malam minggu dan perayaan sekaten.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.uqSNS7sgYOFN7uwe_DLdgDbCtJ6DY18DU1yI6gBnyoYQEUFqqOYOub9QCBXZugb8uQ9mYhlBBjg4SWR7QmIerg
Comments
Loading...