Kesenian Jawa : Topeng Hajatan (Topeng Dinaan)

0 189
Pertunjukan topeng hajatan sering juga disebut topeng dinaan (pertunjukan sehari suntuk). Istilah topeng hajatan diperuntukkan bagi pertunjukan topeng yang penyajiannya dilaksanakan dalam acara kenduri misalnya pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Bentuk pertunjukan topeng ini dianggap sebagai pertunjukan topeng yang paling lengkap, karena waktu pertunjukannya sehari suntuk, biasanya mulai dari pukul 10.00 sampai dengan pukul 16.00 jika siang hari dan pukul 21.00 sampai dengan pukul 03.00 (menjelang subuh) jika malam hari.
Dalam pertunjukan topeng hajatan, tari yang ditampilkan biasanya berurutan berdasarkan karakterisasi, mulai dari topeng Panji sampai dengan topeng Klana. Dari sinilah akan diketahui urut-urutan penyajian topeng serta struktur penyajian yang lengkap.
Struktur atau urutan penyajian topeng hajatan yang juga sekaligus sebagai ciri pokoknya adalah sebagai berikut:
a. Tetalu dan Gagalan Panji
b. Penyajian Topeng Panji
c. Penyajian Topeng Pamindo atau Samba (di tengah-tengah penyajian topeng Pamindo biasanya terdapat selingan berupa lawakan baik menggunakan kedok Tembem atau Pentul maupun tidak).
d. Penyajian Topeng Rumyang
e. Penyajian Topeng Tumenggung/Patih
f. Penyajian Topeng Jinggananom (ditarikan oleh bodor)
g. Penyajian Tari Perang Tumenggung Magangdiraja v Jinggananom
h. Penyajian Topeng Klana (pada bagian ini juga sering diselingi lawakan)
Beberapa daerah menyajikan urutan tari yang berbeda, yaitu menempatkan topeng Rumyang pada bagian akhir, misalnya untuk daerah Losari, Jati, dan juga Gegesik.
Source disparbud.jabarprov.go.id disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=938&lang=id
Comments
Loading...