Kesenian Jawa : Topeng Cirebon, Erat dengan Wayang

0 209
Dalam kehidupan tradisional masyarakat Cirebon, kesenian topeng biasanya erat kaitannya dengan kesenian wayang (kulit). Di setiap perayaan, pernikahan, khitanan, memitu (mitoni), puput puser, gusaran dan khaul/kaulan dan sebagainya, pertunjukan topeng selalu berdampingan dengan pertunjukan wayang. Siang hari topeng dan malam harinya pertunjukan wayang. Kaitan antara topeng dan wayang memiliki alasan tradisi, bahwa setiap orang yang ingin menjadi dalang wayang yang baik harus juga harus menguasai tarian topeng agar dalam memainkan (menarikan) wayang-wayangnya terlihat mantap.
Di kalangan penggarap topeng Cirebon ada anggapan bahwa topeng diciptakan oleh Nurkalam atau Sunan Panggung dari Demak. Anggapan lain menyebutkan bahwa topeng adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Dalam pertunjukan ini masih terdapat kepercayaan lama yang diwujudkan dalam bentuk sesaji dan pembakaran kemenyan. Pertunjukan topeng Cirebon, dimana pun adanya, mempunyai urutan penyajian yang pada umumnya sama dan bisa dijadikan sebagai ciri pokoknya.
Urutan penyajian tersebut yaitu:
1) Topeng Panji
2) Topeng Pamindo/Samba
3) Topeng Rumyang
4) Tumenggung/patih, kemudian dilanjutkan dengan tari Perang Tumenggung vs Jinggaanom ; dan
5) Topeng Klana/Rowan
Kecuali dalam Topeng Panji, setiap penampilan topeng selalu diselingi bodoran (lawakan). Karakter tari¬tariannya amat terkait dengan karakter kedoknya, misalnya Topeng Panji berkarakter halus; Topeng Pamindo/Samba berkarakter ganjen (lincah, ladak); Topeng Rumyang berkarakter ganjen (lincah, ladak), tak lincah.
Lokasi:  Kecamatan Losari, Slangit, Gegesik dan Kreo
Source disparbud.jabarprov.go.id disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=297&lang=id
Comments
Loading...