Kesenian Jawa : Tari Topeng Gunungsari, 100 Thn S. Ngaliman Tjondropangrawit

0 90

Tari Topeng Gunungsari yang merupakan tari topeng klasik gaya Surakarta yang didalamnya menceritakan tentang Raden Gunungsari yang  sedang gandrung (jatuh cinta) kepada Dewi Ragil Kuning. Tarian ini diciptakan oleh S. Ngaliman Tjondropangrawit pada tahun 1978. Tari ini ide penciptaannya diambilkan atau bersumber dari cerita Panji. Tarian ini memang tidak mempunyai fungsi yang khusus sehingga bisa di tarikan dimana saja.

Kali ini Tari Topeng Gunungsari di tarikan pada hari kedua pada Pagelaran Tari 100 Thn S. Ngaliman Tjondropangrawit yang digelar di Pendopo SMKI (SMKN 8) Surakarta selama dua hari dari tanggal 26-27 Maret 2019 mulai pukul 19.00 wib sampai selesai, dimana hari itu bertepatan dengan HUT yang ke 16 Langen Beksan Nemlikuran.

Komposisi di dalam tarian ini selain menggambarkan tentang orang yang sedang jatuh cinta, tapi juga tentang manusia kemanapun kita melangkah pasti akan kembali kepada Yang Maha Kuasa sebagai junjungan manusia.

Pola garapan tari ini seperti halnya tari tradisi klasik yang lain, mengacu pada pola maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Pola maju beksan, mempunyai gerakan sepeti srisig dengan desain pola lantai mengarah ke pojok kemudian gerak ulap-ulap. Gerakan ini bisa dimaknai sedang mencari gadis yang dicintainya.

Gerak dalam pola beksan sebagai penggambaran seseorang yang jatuh cinta seperti berdandan atau bersolek. Bagian mundur beksan ada gerak enjer mande sampur sebagai penggambaran kekasih yang didambakan sudah ada dalam dekapan.

Ragam-ragam gerak yang ada dalam Tari Topeng Gunungsari terutama dalam bagian pola beksan terdapat dua bagian, yaitu sekaran-sekaran gerak yang terdiri dari gerak laras sampir sampur, gajah-gajahan, dan ebat ngancap naga wangsul.

Bagian kedua dalam pola beksan terdapat gerak gambyongan yang mengambil dari Tari Gambyong, seperti batangan. Yang dalam Tari Topeng Gunungsari dinamakan lumaksana nayub, enjer rimong sampur, pilesan, laku telu, dan laku nacah. Gerak lumaksana nayub dan gerak laku telu pegang wiru adalah gerakan yang menjadi ciri kas tari Gunungsari.

Busana yang dikenakan dalam tari topeng ini pada umumnya mengacu pada busana tari klasik gaya Surakarta dengan ciri khasnya pada bagian kepala yang disebut dengan irah-irahan yaitu tekes. Bila diurutkan dengan cara pemakaian terdiri dari, celana (bisa cindhe atau bordir), kain/jarit yang diwiru, sabuk bara cindhe, epek timang, sampur gendhala giri, mekak (bila penarinya perempuan), binggel (gelang kaki), gelang tangan, klat bau, kalung, irah-irahan tekes, sumping, dan keris. Properti yang digunakan adalah topeng.

Tari Topeng Gunungsari diiringi oleh gending Ladrang Gunungsari Laras Pelog Pathet Nem, dengan menggunakan irama tanggung, irama dadi dan irama wiled. Irama tanggung digunakan untuk mengiringi pola maju beksan dan kebar (mundur beksan), irama dadi untuk mengiringi pola beksan bagian sekaran gerak, dan irama wiled untuk mengiringi pola beksan bagian gambyongan.

“Bilamana penari bisa mengungkapkan tarian ini yang bertema gandrung (jatuh cinta), maka penonton akan mudah mencerna dan menikmatinya, walaupun hal ini tidak mudah, karena penari harus bisa menguasai 3 teknik yaitu gerak, irama dan rasa. Apabila ketiga hal tersebut menyatu dalam tubuh penari sebagai media ungkap (lulut) tidaklah mustahil penonton ikut terhanyut dan ikut merasakan gandrung dalam tari ini”, ujar Drs. Supriyadi Hasto Nugroho, M.Sn , putra S. Ngaliman Tjondropangrawit nomer 7 (Dosen UNY).

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-topeng-gunungsari/
Comments
Loading...