Kesenian Jawa : Tari Topeng Dwimuka Jali Semarang

0 106

Tari Topeng Dwimuka Jali yang merupakan sebuah tari kreasi baru yang didalamnya mengekspresikan budaya Jaw  yang  selanjutnya diteruskan dengan medley tari-tarian dari berbagai daerah yang ada di Indonesia seperti taring piring dari Sumatra, topeng Ceribon, Jaipong dari Jawa Barat dan ditutup dengan tarian yang lucu.

Tarian ini diciptakan oleh Didik Hadiprayitno atau lebih beken dengan nama Didik Nini Thowok, pada tahun 2012 dimana pertama kali ditarikan di Dubes Kuwait. Inspirasi tarian ini berasal dari Tari Topeng Bali Pajegan, yang merupakan tari ritual yang memerankan beberapa tokoh/karakter, mulai dari topeng muda, tua, serius dan lucu dan semua ini hanya dengan berganti topeng dengan busana dan iringan yang sama.

Tari Topeng Dwimuka Jali kali ini ditampilkan di acara Pesona Batik Indonesia yang menampilkan produk-produk batik yang ada di Indonesia diadakan oleh Rama Shinta  di Mall Citraland Semarang pada tanggal 25 Mei 2019.

Secara umum tarian ini merupakan dualisme yang ada pada diri manusia, dimana ada karakter baik dan jelek yang mana biasanya kita terjebak hanya dengan melihat tampilan luar saja, dan itu bukan jaminan untuk menunjukan sifat manusia yang sesungguhnya. Jika seseorang tampilannya cantik atau ganteng belum tentu hatinya juga baik ataupun sebaliknya.

Tarian ini bersifat universal dan komedi, sehingga bisa ditarikan dalam acara apapun. Salah satu trade marknya Didik Nini Thowok yang selalu mengusung tarian komedi, sehingga dari semua kalangan baik itu muda dan tua bisa menikmati tarian ini.

Tari Topeng Dwimuka Jali merupakan pengembangan dari Tari Dwimuka Jepindo (mengekspresikan persahabatan akulturasi 2 budaya antara Jepang dan Indonesia) Tapi dalam tarian ini menampilkan ekspresi keragaman budaya Nusantara dengan cara dua sisi, depan dan belakang.

Pada tarian Topeng Dwimuka Jali lebih memperhitungkan pada bagian belakang, hal ini disebabkan karena keterbatasan gerak dan tidak semua gerak tari bisa diposisikan seperti ini dan harus benar-benar teliti sekali dalam pemilihan yang cocok untuk ditarikan dari posisi belakang.

“Beberapa gerakan yang sulit terutama yang ditarikan dari belakang, seorang penari harus mempunyai soul atau feeling untuk menarikan dari depan menjadi belakang, sehingga disini benar-benar teknik atau jam terbang yang berbicara karena sudah menyangkut “rasa” sehingga bisa tersampaikan ke penontonnya,” ujar Didik Nini Thowok.Gerak Topeng Dwimuka Jali pada bagian depan mengmbil cuplikan dari Tari Legong Bapang Saba dari Bali, sedangkan yang belakang menggunakan gerakan tari dari Jawa yang sudah dikombinasi dengan iringan musik dari tari Sisingaan dari Jawa Barat. Tarian ini karena tari kreasi baru, sehingga tidak ada pakem-pakemnya, hanya mengambil teknik-teknik gerak tari tradisi yang bisa dilakukan dengan posisi depan dan belakang seperti seblak-seblak sampur dan ukelan.

Busana yang digunakan pada bagian depan memakai busana Bali murni sedangkan pada bagian belakang menggunakan kebaya Jawa, kain bawahnya dibuat longgar seperti rok yag lebar dengan maksud supaya dalam gerak lebih bebas. Semua ini terinspirasi dari busana pada wayang golek yang sekarang ini banyak sekali dipakai oleh para penari Jaipong Jawa Barat.

Property dan irama gendhing yang digunakan disesuaikan dengan karakter yang ditarikan, seperti waktu tari bali menggunakan kipas, tari piring dari Sumatra menggunakan piring, tari topeng Ceribon menggunakan irah-irahan tekes dengan jumlah topeng semuanya sebanyak 5 buah.

Sebuah keberagaman budaya Indonesia yang dikemas dalam satu tarian yang disajikan dalam bentuk tari solo dengan model medley dengan teknik yang tidak semua penari bisa menyajikan. Teknik disini lebih pada menghidupkan soul atau rasa sehingga bisa sampai ke penontonnya dan ini tidak mudah karena mempunyai karakter yang bermacam-macam.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-topeng-dwimuka-jali/
Comments
Loading...