Kesenian Jawa: Tari Srimpi Sangupati

0 155

Tari Srimpi Sangupati adalah sebuah Tari Klasik Jawa yang sakral dan mistis yang menceritakan tentang penari yang mempunyai peran ganda, tidak hanya sebagai penari tapi juga sebagai prajurit Kraton yang bertugas membuat tamu-tamu Belanda mabuk dengan arak yang disediakan oleh para penari ini. Tarian ini sebagai salah satu bentuk politik untuk menggagalkan keinginan dari Belanda yang menginginkan tanah di kawasan pesisir Pulau Jawa dan beberapa hutan jati yang ada, dan taktik politik ini berhasil. Inti dari tarian ini adalah mengagungkan tokoh pendiri Kerajaan Mataram atau lebih dikenal dengan Wong Agung Ngeksi gondo Panembahan Senopati.

Tarian ini ditarikan pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 45, tepatnya pada tepat tanggal 13 januari 2018, acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta. Dulu sebelum bernama Srimpi Sangupati, ketika Pakubuwono IX memerintah Kraton Surakarta (1861-1893), aslinya bernama Srimpi Sangapti, “Sang Apati” yang berarti sebutan bagi pengganti Raja. Sesungguhnya Tari Srimpi Sangupati ini tidak hanya sebagai sebuah hiburan saja untuk Belanda, tapi maksud  yang lebih adalah minta kematian atau bekal kematian untuk Belanda.

Dalam penggolongan fungsinya tarian ini sebagai pertunjukan hiburan, khususnya menjamu tamu-tamu istana. Pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono X dipentaskan di Kraton Kilen, Ndalem Ageng Sasoni Sewoko. Walaupun sebagai penari, waktu menjamu Belanda, para penari dibekali dengan busana yang dapat dijadikan sebagai senjata, seperti cundhuk mentul (kembang goyang), gelas berisi arak yang beracun serta pistol yang benar-benar berisi peluru. Dalam keadaan mabuk Belanda melupakan semua keinginan yang ingin diraihnya. Tari Srimpi Sangupati merupakan karya dari Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820. Sekarang ini Tari Srimpi Sangupati sudah mengalami penggarapan ulang mulai dari durasi waktu maupun gerak.

Awalnya tarian ini berdurasi sekitar 2 jam, sekarang hanya menjadi sekitar 15 menit saja. Dulu tarian ini digunakan untuk penyambutan tamu agung dan hanya orang-orang Kraton saja yang dapat menyaksikan, sekarang difungsikan hanya sebagai hiburan belaka yang kesemua adegannya dilakukan secara simbolik. Gerak Tari Srimpi Sangupati ini memang rumit karena dikategorikan sebagai tari Klasik Surakarta, dimana setiap geraknya mengandung makna dan arti yang khusus. Gerakan yang didominasi oleh gerakan tangan, kaki dan kepala. Dimana disetiap pentasnya terasa aura magicnya dan terlihat geraknya lemah gemulai yang mengikuti irama gamelan yang mengiringinya.

Busana yang digunakan Tari Srimpi Sangupati menggunakan hiasan kepala dengan jamang, grudha, sumping. Lengan menggunakan kelat bahu, gelang polos/ulan-ulan. Menggunakan kalung penanggalan, giwang permata/sengkang, cundhuk jungkat dan bros. Kain dengan samparan, sampur polos/gombyok kembang suruh, timang putri (thothok), slepe, baju mekak dari bludru. Properti busana menggunakan selendang yang diletakan pada pinggang penari serta keris yang diselipkan pada bagian menyilang ke kiri. Sedangkan riasannya menggunakan riasan karakter make up yang menambah kecantikan dan keanggunan penarinya.

Iringan pada Tari Srimpi Sangupati menggunakan alat gamelan Jawa Klasik dimana pada awal penari masuk diiringi dengan Sangopati dan Ketawang Longsor. Denga properti tari menggunakan pistol, gelas, porong kecil berisi minuman Pesan yang diinginkan pada Tari Klasik Jawa ini adalah hendaknya manusia itu tidak mementingkan diri sendiri dan diharapkan kita mampu melawan hawa nafsu yang berfungsi menuju jalan kebaikan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Tarian ini merupakan kekayaan seni dan budaya Bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan serta dikembangkan untuk menarik wisatawan lokal maupun asing datang ke Indonesia di bidang Pariwisata.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-klasik-jawa/
Comments
Loading...