Kesenian Jawa: Tari Pegon

0 29

Tari Pegon

Tari Pegon adalah sebuah tari tradisional yang menceritakan tentang prajurit wanita sedang menunggang kuda, dimasa Pemerintahan Prabu Amiseno di kerajaan Ngurawan didekat sungai Bratas. Tarian ini merupakan ciptaan dari Untung Moelyono dari sangar Kembang Sore Daerah Istimewa Yogyakarta. Konsekuensi dari makin variatifnya Tari Pegon ini menimbulkan alternatip yang lebih banyak di dalam industri Pariwisata, selain sebagai sebuah upacara, sekarang ini lebih banyak sebagai tontonan dan hiburan rakyat.

Tarian ini ditarikan pada pementasan Parade Tari  di TBRS Semarang yang digelar pada hari Jumat, tanggal 31 Agustus. Mulai pukul 19.00 wib sampai 10.00 wib tepatnya di komplek TBRS (Taman Budaya Radn Saleh) Jl. Sriwijaya no 29 Semarang. Acara ini merupakan bagian dari Pazaar Seni #5 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Semarang selama 3 hari dari tanggal 31 Agustus sampai 2 September 2018 dengan rangkaian acara seperti bazaar seni rupa, industry kreatif, konser musik, pentas theater, bursa tosan aji, pemutaran film, workshop karikatur, dialog budaya, baca puisi, parade tari, guyub komunitas, fotografi dan parade seni anak.

Dalam perkembangannya Tari Pegon ini bisa dikembangkan menjadi sebuah tampilan yang lebih menarik daidalam ide ceritanya, bisa mengambil dari roman Panji, Mahabarata, Ramayana maupun legenda-legenda rakyat yang popular. Penyebutan Tari Pegon disatu tempat dengan tempat lainnnya berbeda-beda seperti di daerah pesisir Utara Jawa menyebutnya dengan kuda kepang dengan nama Ebleg, di Jawa Timur daerah Tulungagung menyebutnya dengan jaranan, di Jawa Barat menyebutnya kuda lumping, karena propertinya dari kulit (lumping), sedangkan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian Selatan menyebut dengan jathilan.

Warna di kuda kepang dapat dimaknai sebagai 4 napsu manusia yaitu:

  1. Mutmainah dengan simbul warna putih yang bermakna kebaikan
  2. Amarah dengan warna merah yang bermakna pemberani.
  3. Supiyah dengan warna kuning dengan makna mudah untuk tergoda keinginan memiliki sesuatu.
  4. Lauamah dengan warna hitam dengan makna serakah.

Secara etimologi istilah kesenian ini dalam bahasa Jawa berarti meloncat-loncat yang menyerupai gerakan kuda, dimana awalan geraknya tidak beraturan kemudian ditata sedemikian rupa menjadi sebuah gerak yang lebih menarik untuk dilihat sebagai sebuah tarian, yang mengambarkan kuda yang sedang berjingkrak-jingkrak. Dalam perkembanganya Tari Pegon sekarang banyak mengalami kemajuan. Ini terlihat dari perubahan pola sajian, struktur gerak, rias busana, properti dan variasi iringannya. Dari sinilah kemudian muncul beragam Tari Pogen yang tambah unik.

Ragam gerak dalam tarian ini cenderung gagah dan kekinian seperti meloncat-loncat dan jungkit-jungkit yang mungkin tidak ada di tarian jaranan yang konvensional, gerakan-gerakan ini dapat dikatak mewakili gerakan-gerakan tari pogen masa kini. Busana yang dikenakan memakai tekes berupa surban, baju lengan panjang, celana  panjang dengan slepe dan sampur merah dengan riasan brayak atau gagah. Iringan juga merupakan iringan garapan yang lebih cenderung memakai irama daerah Jawa Tengah Utara seperti Pekalongan dan Banyumasan. Dalam perkembangan sekarang, kesenian ini diharapkan mucul generasi muda untuk lebih mengembangkan dan melestarikannya. Keterlibatan pelajar pada kesenian ini menunjukan daya tarik tersendiri Tari Pegon di mata kaum muda. Disamping sebagai fungsi pendidikan, yang mana saat ini masih banyak grup-grup  masih setia dengan tradisi dan struktur penyajian yang baku.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-pegon/
Comments
Loading...