Kesenian Jawa: Tari Pamungkas Setu Ponan ke 50 Surakarta

0 21

Tari Pamungkas

Tari Pamungkas adalah sebuah tarian  yang wadag yang tidak bercerita (abstak), sesuatu yang kasat mata, tidak pasti dan tidak terdefinisi yang semuanya itu menjadi puisi bahasa tubuh. Tarian ini merupakan tarian tunggal dan bentuknya merupakan petilan wireng. Tari Pamungkas diciptakan oleh S. Ngaliman Condro Pangrawit pada tahun 1970 an. Beliau merupakan salah satu empu seni tari yang dipunyai oleh Kraton Surakarta yang kemudian secara mandiri berkarya dari tahun 1960. Banyak sekali karya-karya beliau yang melegenda sampai sekarang.

Karya-karya tarinya sangat spesifik dan khas, ini terlihat dalam susunan tariannya, baik berupa wireng, fragmen, petilan, bedhaya, drama tari yang mana semua iringan gendhingnya yang menyusun juga beliau. Tarian ini oleh banyak orang menjadi salah satu master piecenya S. Ngaliman Condro Pangrawit. Tarian ini ditarikan oleh Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 50, Acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Sebagai sebuah perguruan tinggi yang diarahkan  untuk mempersiapkan para calon seniman yang kompeten dibidang kebudayaan, Pedalangan, Tari dan Teater, maka ASGA telah dirancang merupakan sebuah  pendidikan seni yang dilengkapi penguasaan Industri entertainment. Tarian ini diciptakan pada waktu masa peralihan beliau menggarap garapan tari-tarian yang cenderung wadag menjadi abstark. Komplit nama tarian ini adalah Tari Pamungkas Manggala Dibyo, tapi lebih terkenal dimasyarakat dengan nama Tari Pamungkas.

Gerak dalam tarian ini, karena abstark maka tidak ada ceritanya sehingga hanya menggunakan gerakan sekaran-sekaran yang biasanya digunakan dalam tari klasik gaya Kasunan Surakarta (alusan). Sebenarnya latar belakang tarian ini ada, yaitu tentang kehidupan berupa tantangan dan cobaan yang harus di jalani oleh semua manusia di dunia ini tanpa rasa menyerah yang didalamnya ada nilai-nilai spriritualnya Sedangkan pola lantainya hanya maju, kekanan dan kekiri dan cenderung simetris, yang biasa di gunakan dalam tari klasik gaya Kasunan Surakarta (alusan), tapi ada beberapa yang spesial dalam tarian ini dimana Tari Pamungkas mungkin satu-satunya tarian yang tidak menggunakan gerakan trisik (sekaran dengan lari kecil-kecil).

Busana yang dikenakan dulu menggunakan jamang dan rampekan, busana ini biasanya digunakan untuk pertunjukan wayang gedog, tapi kali ini busana yang digunakan hanya pakaian kejawen dengan iket (blangkon), takwo, jarik dengan motip lereng, sampur dan kalung rangkaian bunga melati. Properti yang digunakan dalam tarian ini menggunakan dadap yang berfungsi sebagai senjata tangkis (tameng) yang dilengkapi dengan wayang gunungan yang menggambarkan jagad raya dan kehidupannya.

Riasannya menggunakan riasan tampan. Iringan gendhing dalam tarian ini hanya menggunakan satu gendhing yaitu ketawang rangsang tuban pelog enem (abstark) dengan gamelan klasik Jawa. Sebuah tarian yang memberikan kita tentang makna kehidupan yang harus kita jalani, semua masih dalam bentuk abstrak penuh misteri. Langkah demi langkah harus dijalani dengan tulus dan rasa tanggung jawab. Tidak ada penggambaran yang jelas menimbulkan misteri yang menarik yang dapat menimbulkan banyak tafsir. Dengan segala kecerdasan dan kebijaksaan kita sebagai manusia, semua itu bisa kita hadapi dengan bimbingan Yang Maha Kuasa.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-pamungkas/

Leave A Reply

Your email address will not be published.