Kesenian Jawa: Tari Menak Kadarwati Imam Suwongso

0 5

Tari Menak Kadarwati Imam Suwongso

Kesenian Tari Menak Kadarwati Imam Suwongso adalah sebuah tarian yang mengambil cerita dari serat menak yang menceritakan tentang Prabu Maliyatkutsur dari negara Kubarsi yang ingin melamar Dewi Kun Maryati, akan tetapi Dewi Kun Maryati telah dinikahkan dengan Jayusman, saudara Imam Suwongso. Peperanganpun terjadi Kadarwati sebagai Senopati Kubarsi, Imam Suwongso sebagai Senopati Malebari. Akhirnya Kadarwati mengalami kekalahan yang kemudian takluk.

Latar belakang dari cerita Beksan Menak Kadarwati Imam Suwongso ini dari tanah Arab yang berhubungan dengan penyebaran Agama Islam. Dimana pada peperangan antara Imam Suwongso dengan Kadarwati, Kadarwati akhirnya kalah tapi diampuni oleh Imam Suwongso dengan syarat Kadarwati masuk Agama Islam. Syarat itu akhirnya diterima oleh Kadarwati dan dia akhirnya juga diperistri oleh Imam Suwongso.

Pada dasarnya Negara-negara yang ditaklukan oleh Imam Suwongso  kemudian disarankan masuk Agama Islam. Kalau tidak mau dengan titah Imam Suwongso ini, maka negara itu akan dihancurkan dengan dibumi hanguskan dari muka bumi ini. Tarian ini diciptakan oleh Drs. Supriyanto M.Sn pada tahun 1995. Tarian merupakan tarian klasik khas gaya Yogyakarta. Selain pernah tampil di Pendopo Ndalem Pujokusuman Kraton Yogyakarta, tarian ini juga digunakan oleh Drs. Supriyanto M.Sn sebagai bahan mata kuliah yang beliau ampu di ISI Surakarta.

Gerak Beksan Menak Kadarwati Imam Suwongso ini mengadopsi dari gerak Wayang Golek Kayu dimana geraknya banyak patah-patah yang didalamnya terkandung unsur gerak silat gaya Sumatra, hal ini karena Sinuhun Hamengku Buwono IX sangat interesting dengan gerak silat ini dan kemudian dimasukan dalam gerak tari klasik gaya Yogyakarta. Selain itu gerak tari ini juga memakai gerak tari yang sering disebut dengan luruh dan brayak, yang sifat dari gerak ini sangat maskulin tapi tegas.

Untuk busana pada tarian ini memakai irah-irah ler, sumping, godek, rambut oreng, sedangkan kebayanya memakai bludru dan lis, kalung susun tiga, klat bahu rangrangan, pendeng, sonder, celana cinde berbentuk panji, jarik dengan motip parang rusak gordo untuk penari Kadarwatinya sedangkan untuk Imam Suwongso memakai motip parang rusak gendreh. Untuk riasan menggunakan riasan karakter, yang biasanya kalau untuk penari putrinya sering disebut brayak sedangkan penari putanya sering disebut alus luruh. Riasan ini sangat memperkuat karakter dari penarinya dikala menarikan tarian ini.

Sedangkan untuk iringan lagunya, tarian ini menggunakan gamelan khas Jawa yang mana iringannya biasanya menggunakan ladrang ketawang. Walaupun kali ini digunakan untuk Tugas Akhir seorang mahasiwa, tarian ini sangat detail dalam hal penyajian, mulai dari gerak,busana, gerak, riasan sampai dengan iringanya benar-benar memperhatikan detail apa yang diharuskan dalam tarian gaya Yogyakarta yang sangat khas sekali. Ajang ini malah memberikan khasanah tersendiri untuk pelestarian dan pengembangan tari gaya Yogyakarta yang tidak hanya dilakukan oleh seniman-seniman Yogyakarta tapi sudah masuk ranah sekolah seni yang dapat memperkaya khasanah budaya Yogyakarta.

Source https://myimage.id Kesenian Jawa: Tari Menak Kadarwati Imam Suwongso

Leave A Reply

Your email address will not be published.