Kesenian Jawa: Tari Mbarang Kota Semarang

0 9

Tari Mbarang merupakan sebuah tari tradisi yang menceritakan tentang pentasnya sebuah kelompok penari dan penabuh gamelan yang berpentas keliling kampung atau desa untuk mencari uang (ngamen). Tarian ini merupakan ciptaan dari Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn pada tahun 2014, yang merupakan karya individual memori artinya bahwa beliau mempunyai memori saat kecil, ketika berkunjung ke daerah Grobogan, beliau melihat ada orang mengamen. Biasanya mengamen (mbarang) dilakukan dengan cara menyanyi sepanjang jalan di suatu daerah untuk mendapatkan uang, Tapi yang dilihat ini mengamen (mbarang) dengan menari.

Kelompok mbarang itu terdiri dari beberapa laki-laki yang menabuh gamelan dan beberapa penari perempuan. Mereka keliling desa untuk mencari nafkah. Pada pertunjukannya kadang penari-penari ini mengajak para penduduk untuk menari bersama. Tarian ini ditampilkan dalam Festival Kota Lama 2018 yang berlangsung dari tanggal 20-23 September 2018 yang pada tahun ini mengusung tema “Beda Masa Satu Rasa” yang mengingatkan kita kembali dulunya Kota Lama merupakan daerah potensial dan prestisius, serta pada masanya pernah Kota Lama pernah menjadi Bronknya Kota Semarang. Festival Kota Lama 2018 tahun ini sudah yang ke 7 kalinya, dimana kawasan Kota Lama Semarang sekarang  sudah termasuk dalam daftar Tentative List UNESCO yaitu daerah yang berpotensi menjadi warisan dunia (World Heritage).

Dengan predikat ini kawasan Kota Lama menjadi daerah tujuan wisata dunia Internasional yang sangat potensial. Dalam Tari Mbarang juga digambarkan kehidupan seorang “penguasa”  di Jawa jaman dulu yg mengenal adanya molimo sang penghancur moral manusia yang harus kita hindari karena akan merusak  iman batin dan lahir manusia.Molimo tersebut antara lain adalah Main (berjudi), Madon (main dengan perempuan/pelacur), Maling (mencuri, korupsi atau mengambil barang yang bukan miliknya), Madat (menggunakan candu, narkoba) serta Minum ( minum-minuman yang mengandung alkohol). Gerak tarian ini berpijak pada tari tradisi Jawa gaya Surakarta yang mana untuk penari perempuannya ada ulap-ulap, batangan, sindet, srisig, sedangkan untuk penari putranya ada beberapa motip gerak entragan dan nembak bumi.

Komposisinya tarian ini merupakan tarian kelompok yang ditarikan lebih dari satu orang dan dapat dikatakan sebagai jenis tarian hiburan atau pergaulan yang berpijak dari budaya tradisi mbarang (ngamen). Inti tarian ini diawalan digambarkan seorang penguasa yang mempunyai “kepintaran” untuk memberikan doa-doa kepada para bawahan/penari agar selamat, sukses, mendapatkan uang saat bekerja. Kemudian saatnya para penari putri Nggambyong, menari dengan motif-motip tari Gambyong. Adegan berikutnya adalah penari putra tampil kiprahan mengekspresikan kegembiraan. Adegan akhir adalah bagian para penari mengajak penonton untuk menari bersama. Busana yang dikenakan pada penari putri pada dasarnya mengenakan angkin (atasan) dan berkain atau jarik, sampur, gelung rambut kreasi, sedangkan untuk penari putra mengenakan busana surjan, blangkon dan jarik.

Sedangkan riasannya menggunakan riasan karakter dengan harapan untuk lebih mempertegas peran yang dimainkan diatas panggung.Irama gendingnya menggunakan tembang Jawa dengan gending bentuk lancaran.  Musik tari di aransemen dengan sedikit jenaka dengan harapan agar menumbuhkan suasana riang gembira, sebagaimana tari pergaulan pada umumnya. Tarian ini diciptakan dengan harapan agar penonton mengerti bahwa melalui tari ini bisa terwujud kebersamaan di antara seniman dan penonton, dengan semakin banyak karya seniman di apreasikan di banyak festival, maka akan semakin banyak tumbuh seniman-seniman yang humanis yang dekat dengan masyarakat, ujar babe Iwan, panggilan akrap Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn yang juga  sebagai  Dosen ISI Yogyakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-mbarang/
Comments
Loading...