Kesenian Jawa: Tari Legong Keraton

0 68

Tari Legong Keraton

Tari Legong Keraton adalah sebuah tarian yang menceritakan tentang seorang Pangeran dengan nama I Dewa Agung Made Karna dari Sukowati yang sakit bermimpi melihat dua bidadari cantik yang sedang menari diiringi alat musik  gamelan dengan lemah gemulai.

Ketika Pangeran itu sembuh dari sakitnya, mimpi melihat dua bidadari itu diwujudkan dalam sebuah tarian lengkap dengan alat musiknya. Tari Legong Keraton berasal dari kata leg yang mempunyai arti lemah gemulai, luwes serta lentur, sedangkan gong mempunyai arti alat gamelan untuk mengiringi sebuah tarian. Jadi bisa dikatakan makna Tari Legong Keraton mempunyai arti, bahwa sebuah tarian harus bersenyawa  dan menjadi satu kesatuan dengan irama gamelan yang mengiringinya.

Tarian ini biasanya ditarikan di halaman Keraton di bawah sinar bulan purnama oleh dua gadis yang belum menstruasi memakai alat kipas yang dikenal dengan penari legong, dan seorang lagi sebagai penari pelengkapnya di namakan penari condong yang tidak memakai kipas. Pada awalnya tarian ini dulu di pentaskan oleh seniman yang bernama Gusti Jelatik dengan tarian yang bernama Nadir di pendopo Keraton.

Dari gerak dan gaya penarinya semua dimainkan oleh kaum lelaki yang secara kasat mata terlihat seperti tarian Hyang Legong. Melihat tarian tersebut, I Dewa Agung Made Karna kemudian memrintahkan pada para seniman untuk mengemas kembali tarian tersebut dengan harapan yang menarikan semua adalah perempuan. Maka dari sejak itu tari Nadir digubah dan ditarikan oleh penari perempuan.

Tari Legong Keraton merupakan tari klasik Bali yang memiliki gerak yang sangat komplek dimana diikat oleh stuktur irama pengiring, yang katanya dulu mendapat pengaruh dari Tari Gambuh. Tarian ini berkembang pesat di Pulau bali pada abad ke 19. Dilihat dari sejarahnya tarian ini berasal dari Sukowati yang kemudian berkembang di seluruh pelosok Pulau Bali seperti di Puri Agung Desa Saba, Peliatan Bedulu dan Benah Denpasar. Dari sinilah tarian ini menjadi idola dan menjadi tarian hiburan khas di seluruh Keraton yang ada di Pulau Bali.

Kostum busana pada Tari Legong Keraton memakai kemon dan baju, yang merupakan penutup bagian atas dengan baju lengan panjang dengan warna yang mencolok seperti merah , kuning dan hijau. Kemudian memakai songket dan stagen, pada bagian ini memiliki corak dan warna yang khusus yang identik dengan kemewahan dan keindahan. Dililitkan di pinggul penari dimana kain stagennya di jadikan sabuk pengikat untuk menutupi bagian perut dan dada.

Dan yang terakhir adalah badong dan tutup dada, badong merupakan sebuah perhiasan yang terbuat dari kulit hewan yang dikenakan dileher untuk menutupi bahu penarinya, selain itu para penari ini menggunakan gelang, gelungan sanggul sabagai hiasan di kepala. Irama pada Tari Legong Keraton diiringi dengan gamelan klasik Bali seperti sepasang gender rambat, gender barangan, gangsa kemong, kempul, jegogan, jublag, cenceng, rebab dank ajar, sedangkan yang membawakan narasi alur ceritanya dalam tarian ini disebut dengan juru tandak.

Tarian ini sudah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Ini menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi Bangsa Indonesia khususnya Pulau Bali. Peran Pemerintah dan masyarakat pecinta seni sangat diharapkan guna pelestarian serta menjaga dan melindungi tarian ini yang dapat dijadikan sebagai daya tarik pariwisata agar para wisatawan asing maupun lokal untuk datang ke Pulau Bali yang sudah terkenal di muka Bumi ini.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-legong-keraton/
Comments
Loading...