Kesenian Jawa : Tari “Bedoyo Pager Bumi”, Garin Nugroho

0 20

Tari berjudul “Bedoyo Pager Bumi”, berdurasi 45 menit, digarap bersama Koreografer Bimo Wiwohatmo dan Penata Artistik Ong Hariwahyu, bertempat di Pendopo Art Space, Ringroad Selatan Dongkelan, Bantul, pada Sabtu malam (25/03/17).

Bedoyo Pager Bumi adalah sebuah tarian yang menceritakan perjalanan tiga orang pada awal abad ke-19 di Tanah Jawa. Perjalanan Ksatria Islam Jawa beserta istrinya dan Hewan penjaga perjalanan. Perjalanan tersebut dilakukan untuk mencatat dan melihat perubahan-perubahan di Tanah Jawa

Ungkap Garin kepada RRI usai pementasan. Dikatakan, perjalanan yang dipenuhi arak-arakan, mulai dari arak-arakan modernisasi, arak-arakan penaklukan oleh Kolonial Eropa, arak-arakan nilai baru, arak-arakan pematokan tanah-tanah untuk industri pertanian baru. Manusia Jawa menjadi terpecah-pecah dalam dunia Kapitalisme yang tak pernah dipahami oleh masyarakat Jawa sebelumnya, penuh paradoks kekerasan. Pagar-pagar senjata telah memisahkan manusia Jawa yang harus menjalankan beragam larangan dibawah ancaman kekerasan penjajah.

Di akhir cerita, Sang Ksatria Islam Jawa memberi pesan bertajuk Pager Bumi, bahwa manusia Jawa akan hidup dalam beragam pagar, yakni pagar-pagar dengan senjata yang melahirkan kekerasan, dan pagar jiwa Tanah Jawa, yang memberi kesuburan pikiran serta kelapangan hidup bagi beragam manusia.

Manusia Jawa akan berjalan ditengah beragam Pagar Bumi, ada Pagar Radikalisme maupun Pagar Liberalisme

ujar Garin. Bedoyo Pager Bumi melibatkan sembilan penari, dengan penari utama Nungki Nur.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.VwRi6GGvnfhu349b758RP2wMaiStSBQLl27ugeef0dRhp4BGV_e9ebsNOIZC-m4lGHJ4IpwR8bzRm5wwoAgFEw
Comments
Loading...