Kesenian Jawa: Sewindu Bale Seni Condroradono

0 14

Sewindu Bale Seni Condroradono merupakan peringatan dimana tepatnya pada tanggal 3 Nopember 2017 ini Bale Seni Condroradono genap sewindu, di mana awalnya bale seni ini di resmikan oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubowono X. Sri Sultan Hamengkubowono X pada saat itu ingin agar Bale Seni Condroradono ini sebagai pusat inspirasi pengembangan seni. Bale Seni Condroradono sendiri sejak awal ingin kiprahnya tidak hanya pada tari (Beksa) tapi juga bahasa (Basa) dan batik atau sebagai gerak tiga B yaitu beksa, basa dan batik.

Pendopo Bale Seni Condroradono menjadi saksi bisu berlangsungnya pergulatan tekad dan keadaan . Tempat ini menjadi harapan sepanjang minggu, bulan dan tahun bagi tidak hanya seniman yang menjadikannya sebagai ruang latihan secara rutin tapi bagi siapa saja yang menginginkannya. Tidak hanya di bidang seni tari saja, tetapi di bidang yang lain termasuk pengembangan pemikiran kebudayaan. Dalam kaitannya ini, beberapa sarasehan diadakan yang melibatkan kalangan yang lebih luas, mulai dari para seniman tari, media, sampai para pemikir kebudayaan.

Pemikiran yang berkembang di Bale Seni Condroradono dalam beberapa segi kendali kecil namun diyakini menjadi bagian dalam upaya kemajuan tari  Mataram. Bagi Bale Seni Condroradono kesemuanya ini tidak hanya sebagai rutinitas melainkan bagian dari penyusunan batu bata bangunan kebudayaan. Sajian pada Sewindu Bale Seni Condroradono pada tanggal 3 Nopember 2017 ini menampilkan karya-karya dari Dr. Kuswarsantyo, M. Hum yang lebih di kenal dengan Doktor Jathilan.

Tapi sebelum acara puncak ini diselinggi dengan Tari Soyung, Tari Zapin Kun-anta, Tari Retno Asri dan Tari Golek Nawung Asmoro/Ayun-ayun. Kemudian baru diteruskan dengan acara puncak yang diawali dengan Tari Pencak Nusantara (Karya Dr. Kuswarsantyo, M. Hum dan Prof Dr. Siswantoyo). Karya ini terinspirasi untuk mendukung keutuhan NKRI melalui ekspresi gerak pencak kolaborasi dengan olah raga.

Sajian kedua dengan Tari Klana (Sepuh) “Surengpati”. Tari ini di kemas untuk penari Lansia (Usia di atas 50 tahun) yang menceritakan hendaknya orang yang berusia di atas 50 tahun menerapkan sikap menep, sareh dalam menghadapi tantangan dan harapan di masa datang. Sajian ketiga berupa tari Turonggo Manis dimana tarian ini berupa Eksplorasi  Jathilan yang terinspirasi dari Gending Jaran Teji karya Ki Tjokrowasito. Sajian keempat berupa Tari Kidung Paweling#2 yang  mana tarian ini perpaduan antara sholawat dan Joget Mataraman yang dapat di jadikan tuntunan dalam menghadapi kehidupan didunia ini.

Sedangkan pada tarian penutup dengan judul Tari Gadhon Jemblung “Bandung Bondowoso” dimana pada tarian ini mengisahkan kisah yang sangat popular yang dikemas dengan format perpaduan antara konsep bedayan, kecak, jemblung dan gadhon dengan sisipan dialok pendek-pendek serta diselinggi dengan tembang ala wanaran. Semoga Sewindu Bale Seni Condroradono ini memberikan dukungan dan partisipasi untuk semua  pihak dan dapat memberi kekuatan dalam melestarikan, membina, mengembangkan dan memanfaatkan budaya untuk kepentingan yang lebih luas

Source https://myimage.idhttps://myimage.id https://myimage.id/sewindu-bale-seni-condroradono/
Comments
Loading...