Kesenian Jawa : Seni Tradisi, Kontemporer & Populer

0 12

Wayang kulit, bisa saja awalnya dari seni kontemporer. Kemudian diterima masyarakat, masuk upacara ruwatan, menjadi seni tradisi atau bisa juga seni populer. Perlu diketahui bahwa seni tradisi, berlangsung terus-menerus, sehingga menjadi tradisi masyarakat. Seni kontemporer, seni yang nilainya belum terukur, mau disenangi masyarakat, bagus, jelek, belum diketahui. Sedangkan seni populer, dibentuk supaya populer, dan disenangi masyarakat.

Ketoprak, ungkap R.M. Kristiadi, S.Sn. (seniman dan pemerhati budaya), merupakan seni populer komersial, karena lahirnya dari prakarsa sekelompok orang yang membuat semacam drama dengan lesung, berkeliling desa untuk mencari sesuap nasi. Lama-lama, berkembang menggunakan gamelan. Muncul lakon yang disenangi masyarakat, seperti Suminten Edan, atau Si Buta dari Gua Hantu. Memang demikian orang berkesenian. Tonil disenangi, ketoprak ikut pakai tonil, karena memang ketoprak merupakan seni populer komersial.

Wayang wong di Surakarta, awalnya seni tradisi di Mangkunegaran. Memang seni tradisi, karena dipertunjukkan untuk peringatan ulang tahun raja. Kemudian ditarik oleh seorang pedagang Cina, dan menjual pertunjukannya di Sriwedari, dengan tonil. Untuk menarik minat penonton, dibuat lakon Srikandi Edan, Gatotkaca Kembar Lima, dan lain-lain. Hal ini merupakan kerangka budaya seni populer komersial, bukan tradisi lagi. Seni tradisi harus melekat pada tradisi tertentu, tidak bisa dengan maksud agar ramai ditonton, dan supaya disenangi orang, gamelan sekaten pakai elektone.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.IDrESA57iES52sssBUFKumZ30Ty2-wfDuSj2eZ1OirEQEUFqqOYOub9QCBXZugb8uQ9mYhlBBjg4SWR7QmIerg
Comments
Loading...