Kesenian Jawa : Sandiwara Cirebon (Masres), 1940

0 197
Sandiwara Cirebon, dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dengan sebutan Masres pada tahun 1940-an, muncul ketika Cirebon diduduki oleh kolonialis Jepang. Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh para tokoh sandiwara Cirebon saat ini, bahwa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, di daerah Cirebon muncul kesenian yang digemari oleh masyarakat yaitu reog Cirebonan yang terkenal dengan nama Reog Sepat. Anda akan mengikuti pertunjukan Reog tersebut yang terbagi ke dalam dua bagian.
Pertama, berupa atraksi bodoran/lawakan; dan kedua, berupa drama yang mengambil cerita dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut. Pada saat bersamaan, di daerah Jamblang Klangenan muncul pula sebuah kesenian yang lazim disebut Toneel dengan nama Cahya Widodo. Kesenian ini tiap hari bahkan berbulan-bulan melakukan narayuda (ngamen). Kedua jenis kesenian tersebut kemudian mengilhami seorang pemuda dari Kampung Langgen, Desa Wangunarja, Klangenan Cirebon, yang bernama Mursid untuk mendirikan kesenian baru di daerah Cirebon.
Dia mengumpulkan para pemuda dari Iingkungan sekitar untuk bersama¬-sama mendirikan perkumpulan kesenian yang merupakan perpaduan antara Reog Sepat dan Toneel Cahya Widodo. Kesenian ini merupakan bentuk drama gaya Cirebonan dengan iringan musik yang didukung oleh waditra berlaraskan prawa. Perpaduan kesenian tersebut dinamakan Jeblosan yang artinya menurut mereka adalah pertunjukan Toneel tanpa Iayar tutup (bhs Cirebon, jeblas jeblos). Sementara kesenian yang baru saja terbentuk.
Source disparbud.jabarprov.go.id disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=377&lang=id
Comments
Loading...