Kesenian Jawa : Reak, Perpaduan Beberapa Seni Tradisi

0 59

Reak. Kesenian ini memadukan beberapa jenis seni tradisional, seperti reog, angklung, gendang pencak, tari, dan topeng. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh orang dewasa. Konon, Seni Reak lahir sekitar abad ke-12 dimana pada saat itu Prabu Kiansantang, putera Prabu Siliwangi, bermaksud untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat. Dalam agama Islam, setiap laki-laki wajib hukumnya untuk dikhitan (sunat). Namun, pelaksanaan khitanan bagi anak-anak ini mendapat kendala karena si anak selalu merasa ketakutan untuk dikhitan.

Oleh karena itu, para sesepuh di Sumedang berpikir bagaimana caranya agar anak-anak yang akan di khitan tidak takut, maka diciptakanlah suatu jenis kesenian yang disebut “Seni Reak”. Hal yang paling prinsip dari pertunjukan ini adalah keramaian atau kemeriahannya agar banyak masyarakat yang menonton, terutama anak-anak. Oleh karena itu, memadukan beberapa jenis kesenian mempunyai pengaruh agar pertunjukan Seni Reak ini lebih meriah. Karena hirup-pikuk dan sorak-sorai dari pemain dan penonton itulah maka kesenian ini dinamakan “Seni Reak” diambil dari kata hirup-pikuk, atau sorak-sorai gemuruh tetabuhan yang dalam Bahasa Sunda yaitu “susurakan atau eak-eakan”.

Jumlah minimal pemain yang harus mendukung pertunjukan Seni Reak ini sekitar 20 orang, atau lebih banyak akan lebih baik. Masing-masing pemain memiliki fungsinya berdasarkan alat kesenian yang dipergunakan dalam Seni Reak ini, 4 pemegang.

Source disparbud.jabarprov.go.id disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=334&lang=id
Comments
Loading...