Kesenian Jawa : Pertunjukkan Wayang Golek Perbaruan

0 68

Wayang golek dulu masih terselimuti tabu. Orang yang nanggep atau mementaskan wayang golek dan punya kerja, dianggap mengakibatkan melarat. Trisno, yang sejak kecil menggemari wayang golek, dan telah menekuni wayang golek, ingin menepis anggapan itu bahwa tidak ada yang demikian. Wayang golek dimainkan pada panggung yang berbeda dengan wayang kulit. Karena itu, dibuat pertunjukan gabungan, yang terdapat drama, dan kolosal juga, meskipun ada pula unsur, seperti pada wayang tradisional.

Membuat karya besar, seperti pertunjukan wayang, perlu latihan, kekompakan, dalam memainkan wayang, juga berdialognya, digunakan pengisi suara, karena yang menggerakkan wayang di panggung, tidak berbicara. pertunjukkannya menggabungkan pakeliran wayang golek tradisi dengan wayang boneka, pada panggung yang bisa bergerak-gerak, agar bisa tetap menarik. Selain dimainkan sejumlah dalang sekaligus, ditampilkan pula adegan yang hanya dimainkan satu dalang, seperti pada wayang golek tradisi.

Musik pengiring wayang golek dibuat baru. Untuk hal ini, Trisno bekerja sama dengan Widodo, S.Sn., M.Sn., dari jurusan karawitan. Musik tradisional digabungkan dengan musik bukan tradisional. Suara klarinet, simbal, gitar, biola, dan lain-lain, beriringan seirama dengan suara gamelan yang tetap bisa didengarkan. Persiapan pertunjukan dilakukan selama empat bulan, dari menulis naskah, mengumpulkan pengisi suara. Meskipun punya peran yang cukup banyak dalam pembuatan dan pertunjukan wayang golek baru (perpaduan wayang boneka).

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.DAaaTT0GX6-vJpQ6gvcm5IraBMa_MKURGV-hLWgMWEbMiVP-bwlOc1vc3pIN2V_cTMODRKS5mxkoPej8_N6HPw
Comments
Loading...