Kesenian Jawa : Membumikan Wayang, Mengangkat

0 29

Membumikan wayang (desakralisasi dan dekonstruksi pakem pedhalangan). Dengan demikian, pakem dipandang ibarat buku tuntunan bagi para siswa atau pemula yang ingin menjadi dhalang. Berbekal keahlian dan daya cipta, dhalang dapat menafsirkan kembali pakem sesuai dengan perkembangan zaman. Gaya pakeliran Ki Nartasabdha pada awal kiprahnya sebagai dhalang, masih lekat dengan pakem gaya Surakarta. Sejak 1958, ia merintis penghubung pakeliran gaya Surakarta dengan Yogyakarta, misalnya dalam jenis sulukan, gendhing, dan keprakan.

Demikian pula gendhing-gendhing dan garap karawitan dari daerah lain, seperti Jawa Timuran, Banyumasan, Pasundan, dan Bali, bahkan merambah pada idiom-idiom gendhing bedhayan, musik keroncong, langgam Jawa, sampai musik pop dangdut. Janturan yang digunakan pun diluar kebiasaan atau tidak lazim, dan perwatakan tokoh-tokoh dengan penekanan pada sisi kemanusiaannya. Kemampuan Ki Nartasabdha menjabarkan lakon baku dan carangan melalui penggarapan sanggit dan pemusatan ekspresi dalam dialog wayang (antawacana), dinilai kalangan pedhalangan dan masyarakat pecinta wayang, merupakan sesuatu yang baru dalam dramatisasi pakeliran.

Dalam hal lakon pun, ia yang pertama kali membuat lakon banjaran (biografi tokoh pewayangan), misalnya Banjaran Bisma, Banjaran Karna, Banjaran Bima, Banjaran Arjuna, dan Banjaran Gathutkaca. Ia juga menggubah lakon-lakon yang tidak lazim dipergelarkan dalam pakeliran wayang kulit purwa, seperti lakon Sakuntala, Sawitri dan Damayanti. Perubahan pakeliran yang dilakukan Ki Nartasabdha, dipandang garap.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.P88wciG0r1Q89GYBB8ozaOQ3gePcYmazLPYJpFx-T07CCuVQI6dhEOOZJGQPNV1M8G39qgoAm_Uu00Uu5j42ng
Comments
Loading...