Kesenian Jawa : Masres, Teater Sarat Pesan Moral

0 225

Masres, teater rakyat yang sarat pesan moral. Amad, pendiri masres mengadopsi babad Cirebon sejak Sunan Gunungjati membumikan agama Islam di Cirebon hingga melebar ke bagian lain di Jawa Barat. Cerita turun temurun warisan leluhur mengenai sejarah persemaian agama ini diangkat ke dalam teater rakyat. Judul-judul favorit Masres biasanya adalah: Babad Alas Muara Tuaatau pembukaan hutan Muara Tua (kabarnya Muara Tua adalah nama sebelum Cirebon), Bumi Celancang/ Hikayat Syekh Windujati, dan yang paling populer Ngalangi Grebeg Muludan.

Tiga lakon di atas sangat sinkron dengan kisah penyebaran agama Islam. Babad Alas Muara Tua mengungkap kiprah para utusan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati) ketika membuka hutan sekitar daerah Gunungjati sekarang; mendirikan pesantren, mesjid dan kasunanan yang kala itu masih “berafiliasi” ke kerajaan Demak di Jawa Tengah. Lakon Syekh Windujati bertutur mengenai islamisasi bumi Celancang oleh beliau. Sedangkan Ngalangi Grebeg Muludan mengungkap penghentian upeti kasunanan Cirebon ke kerajaan Galuh dan Pajajaran.

Kemarahan pihak Galuh yang diteruskan dengan penyerbuan ke Cirebon disambut dengan perang tanding. Meminjam Babad Cirebon karya Pangeran Sulendraningrat, kekalahan Galuh pada 1528 merupakan keberhasilan pertama Cirebon yang diteruskan dengan “penaklukan” daerah lain di Jawa Barat. Pangeran Wiralodra dari Indramayu menyerah dan menggabungkan wilayahnya dengan Cirebon di tahun itu juga. Talaga (kabupaten Majalengka) tahun 1529.

Source kompasiana.com kompasiana.com/dadangkusnandar_cirebon/masres-sandiwara-rakyat-cirebon_54ff20f5a33311024650f8eb
Comments
Loading...